Apa kesan Anda, ketika seseorang berapi-api menyampaikan tentang apa yang sudah dia lakukan untuk orang lain? Dari pengalaman saya, justru citra diri orang itu semakin buruk dan lebih buruk lagi, kalau ternyata apa yang diucapkannya itu tidak benar. Saya kagum justru kepada seseorang yang tidak memamerkan jasanya, tetapi orang lain yang mengatakan jasa orang tersebut kepada kita. Mengapa demikian?

Pernah diceriterakan bahwa pada Perang Dunia I ada seorang serdadu Perancis muda yang mendapat luka berat. Lengannya terkena ledakan sedemikian parahnya sehingga harus diamputasi. Semua orang iba dan dan menyayangkan karena Dia adalah seorang muda yang sangat cakap. Dokter ahli bedah itu merasa amat sedih bahwa orang muda itu selanjutnya harus hidup sebagai orang cacat.

Setelah operasi selesai maka rekan-rekannya dan dokter ini menunggu di tepi tempat tidur, menunggu prajurit muda ini siuman dari biusnya, untuk menyampaikan berita yang buruk itu bila sudah menjadi sadar kembali.

Pada waktu pemuda itu membuka matanya, dokter itu berkata dengan hati-hati kepadanya, “Aku menyesal sekali untuk memberitahukan kepadamu bahwa engkau telah kehilangan lenganmu karena tidak bisa diselamatkan lagi.
Dokter,” kata pemuda itu, “Aku tidak kehilangan lenganku, karena aku telah memberikannya untuk negaraku.

Pelajaran yang kita dapatkan dari cerita ini adalah bahwa kebahagiaan akan kita miliki bila kita memberi dengan ikhlas, tanpa meminta imbalan.

Maka usulan saya, bersikaplah tulus dan ikhlas untuk setiap pemberian kita kepada negara, perusahaan atau seseorang, dan tidak berpikir kehilangan, dengan demikian hidup kita akan lebih bahagia.