Buku Membawaku Keliling China

Julianto Simanjuntak bersama keluarga
Julianto Simanjuntak bersama keluarga

Liburan adalah agenda keluarga kami dua kali setahun. Sebab liburan dan melancong membangun kebersamaan kami. Membantu melepas kepenatan kerja. Menambah wawasan anak-anak, tentang banyak tempat dan kebudayaan.

Suatu hari di tahun 2008 si bungsu kami bertanya : “Pa, kapan ya bisa bawa Moze liburan ke China.”. Saya menjawab: “Nak, bersabar ya kalau ada rezeki kita kesana.”
Kami mendoakan keinginan Moze tersebut sambil minta dia kursus bahasa mandarin lebih dulu. Kami mencoba menabung sambil cari info biaya murah kesana.

Suatu hari saya kontak email dengan seorang pembaca buku kami. Bu Sandra namanya. Dia mengenal kami lewat buku “Seni Merayakan Hidup yang Sulit” (Gramedia, 2008). Karena Bu Sandra saya dengar sering ke China urusan bisnis, saya menanyakan apakah dia punya rumah di Beijing. Saya pikir, apabila ada yang meminjamkan rumah, biaya liburan ke China bisa lebih murah

Ibu Sandra balik tanya, “Kenapa Pak Julianto tidak ikut tur saja, supaya lebih enak buat anak-anak, supaya tidak repot.”. Lalu dia janji minta stafnya mencarikan info travel yang baik dan murah.

Suatu hari sekitar awal Agustus saya mengunjungi pameran travel & tur di Mal Puri. Ternyata ikut tur biayanya berat buat kami berempat. Sekitar 90 juta untuk tur 9 hari. Karena cukup mahal saya memutuskan tidak jadi liburan kesana tahun itu.

Namun pertengahan Agustus tiga minggu sebelum Idul Fitri, saya mendapat telpon dari sekretaris bu sandra. Dewi namanya.

“Pak Julianto, saya dewi sekretarisnya bu Sandra. Beliau menanyakan apakah bapak jadi pergi ke China.?”.

Saya menjawab singkat, ” O sory tidak jadi mbak Dewi…. kenapa mbak.?

Dewi berkata : “bu sandra menanyakan apakah bapak jadi tur ke china.”.

Saya menjawab: “mbak, tiket mahal buat kami tur berempat…mungkin lain kali deh.”

Dewi kemudian menjelaskan sesuatu yang tidak kami bayangkan dan pikirkan:

“ Pak Julianto, semua tiket dan biaya Tur akan dibayarkan bu Sandra, bapak sekeluarga tinggal berangkat saja. Kalau jadi, bapak mohon kirim semua persyaratannya. Nanti Dewi yang urus semuanya.”

Waw….saya terdiam sejenak. Dibayarin?? Tak terbayangkan…..Uang 90 juta bagi kami tidak sedikit. Saya kemudian menutup percakapan itu berkata:

” hmmm mbak, iya iya thank you mbak….oke oke, segera saya minta istri saya siapkan syarat syarat yang dibutuhakan…thx banget ya mbak.”

Singkat cerita, beberapa hari kemudian kami mendapat kabar dari agen travel, bahwa semua tiket kami sudah oke, dan kami diminta siap berangkat.

Kami benar-benar merasa surprise, bersukacita luar biasa. Siapa menyangka bahwa doa Moze akhirnya terkabul. Kamipun sekeluarga bisa melancong ke China dan Hongkong. Berkat perkenalan dengan seorang pembaca buku kami. Suatu hal yang tak pernah kami pikirkan, itu yang Allah sediakan.

Kami berangkat Selasa (7 September) pukul 18.35 dengan Malaysia Airlines. Penerbangan menyenangkan. Kami mendarat di Beijing pukul 06.20 tgl 8 September. Terminal Beijing sangat besar, modern, dan padat dengan manusia. Kami naik bis besar dan bagus, langsung ke Forbidden City.

Walaupun Beijing penuh apartemen, pemerintah setempat memperhatikan kebutuhan lokasi hijau warganya. Di seluruh Beijing ada dari 100 taman. Tiap orang membayar 100 yuan (元100) setahun sebagai iuran agar bisa masuk ke 35 taman. Selain itu di sana ada bisa gandeng (dua gerbong) dan bis yang jalan di atas rel listrik. Ongkos bis 元2 (元1 = Rp 1.340) sekali jalan. Kalau naik MRT hanya 50 sen. Jadi, walaupun jalan-jalan macet, tidak banyak orang punya mobil.

Selain itu orang juga naik sepeda. Kalau punya motor harus membayar pajak 元1.500/tahun. Pajak mobil dan pajak anjing juga sangat tinggi. Menurut guide kami, China memproduksi hampir semua keperluan masyarakat-nya, mulai kebutuhan pangan sampai mobil. Di Cina pabrik Volvo pun ada, Honda, Toyota, Chevrolet.

Sebagai turis, kami tentu hanya disuguhi bagian-bagian terbaik dari kota-kota yang kami kunjungi. Kami tidak ke kawasan kumuh, misalnya. Tapi di kota lain kami juga menjumpai tukang becak dan tunawisma yang tidur di bawah jembatan.

Masuk Forbidden City bayar (元60/orang). Ini adalah istana permaisuri kaisar. Luasnya 33 ha. Dari depan ke belakang sekitar 3 kilometer. Ada bagian yang rimbun, ada juga berupa lapangan terik. Tapi cuaca cukup bersahabat, berangin dan sejuk. Pada masa kekaisaran, penguasa China bebas mengambil siapa saja perempuan menjadi selir. Maka di istana ini ada 999 kamar untuk semua selir kaisar.

Forbidden City bersambungan langsung dengan Lapangan Tian An Men, tempat terjadi revolusi tahun 1989. Ini menjadi awal keterbukaan China pada perubahan zaman.

Hari itu banyak pengunjung berfoto-foto di depan gambar Mao Zhe Dong. Kami juga berfoto dalam grup.

Sekitar pukul 3 kami menuju tempat penjualan obat yang dikelola pemerintah China. Sebenarnya program ini tidak ada di brosur. Menurut mereka semua obat yang dijual di sana sudah ratusan tahun umurnya. Tapi sekarang dikelola secara modern.

Dari sana kami menonton pertunjukan Acrobatic Show yang tiketnya 元100. Pertunjukannya menakjubkan. Ada adu ketangkasan pakai topi, bola, semacam yoyo, dan ditutup dengan atraksi lima sepeda motor menderu-deru dalam sebuah bola raksasa, berdiameter (mungkin 9 meter). Ini benar-benar puncaknya. Luar biasa!

Hari kedua, kami mengunjungi Istana Musim Panas Permaisuri, Great Wall, The Summer Palace, melihat Olympic Stadium, dan makan malam di Peking Duck Dinner, restoran bebek Peking yang sudah berusia 350 tahun.

Hari ketiga, kami ke Shanghai. Mengunjungi Yu Garden. Ini adalah tempat permaisuri kaisar juga, dibangun 1843. Untuk mengelilingi “taman toko” seluas 33 hektar ini (tidak seluruhnya dilihat).

Selain Shanghai kami juga pergi ke Guilin dan Shenzen, lalu hari terakhir kami bermalam di Hongkong. Banyak sekali tempat wisata yang menarik dan mengesankan. Pemerintah China benar benar hebat mengelola parawisata negri itu.

Julianto Simanjuntak

Kisah di atas semakin menginspirasi saya untuk giat menulis guna mengisi waktu luang. Bagaimana dengan Anda? Masihkah ada waktu yang ingin terbuang percuma?

Sumber : kompasiana

You may also like

Leave a Reply