Foto Kartini

Pernahkah Anda memiliki sesosok Kartini di kehidupan Anda? Saya pernah bertemu dengannya. Bahkan saya pun bangga menjadi bagian dari kehidupannya. Siapakah dia?

Sosok mirip Kartini itu adalah ibuku. Ibuku adalah Kartini masa kini. Mengapa aku bisa menyebut beliau sebagai seorang Kartini dalam hidupku? Apa jasa beliau sehingga aku bisa menyebutnya sebagai seorang Kartini?

Sebelum kita membahas lebih jauh, ada perlunya kita mengenal seorang Kartini yang lahir di Jepara. Nama aslinya adalah Raden Ajeng Kartini. Ia adalah anak seorang bangsawan yang masih taat pada adat istiadat pada saat itu. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan.

Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia).

Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita.

Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Dari gambaran kehidupan Kartini saat itu, aku bisa menyimpulkan bahwa ibuku memiliki darah seorang Kartini. Beliau adalah seorang ibu yang tak kenal menyerah dalam memperjuangkan hidup keluarga. Ayahku yang seorang abdi negara (baca : polisi) merasa gajinya kurang untuk menghidupi 4 anaknya yang mulai beranjak remaja dan butuh pendidikan semakin tinggi.

Aku teringat perkataan ibuku, “Bersyukurlah kamu nak, teman ayahmu yang setingkat dengannya memiliki banyak hutang. Ia tak bisa menyekolahkan anaknya seperti ayahmu menyekolahkan dirimu hingga seperti ini.” Aku memang hanya seorang mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah Strata I, namun tak pernah kurasakan kesulitan sekalipun penghasilan ayahku pas-pasan.

Ada banyak cerita tentang polisi di jalanan. Aku tak peduli itu. Ibuku selalu mengingatkan ayahku untuk menghasilkan uang bukan dengan cara melakukan pungutan liar. Aku pun terdidik olehnya untuk selalu menghargai setiap sen uang yang dikeluarkan oleh orang tuaku. Hingga kini, syukurlah aku bisa menikmati bangku kuliah meski kebanyakan teman-temanku jenuh akan tugas yang mengalir di dalamnya.

O iya, perlu diketahui pula bahwa ibuku adalah seorang pengusaha kecil. Beliau membuka usaha pembuatan kue dan makanan di rumah. Aku yang kini berada di luar kota, selalu terharu melihat perjuangan nyata ibuku dalam mencari uang ketika aku berada di rumah. Betapa tidak manusiawi-nya aku ketika membiarkan melihat ibuku bangun subuh dan tidur menjelang subuh pula dalam sehari.

Beliau selalu bercerita di keesokan harinya, tadi malam hanya tidur beberapa jam saja. Entahlah, kenapa selalu cerita itu yang kudengar dari ibu setiap hari. Sepertinya ibu tak pernah bosan untuk menghasilkan uang bagiku dan adik-adikku.

Aku harus bisa bertahan dan menunjukkan bahwa ibuku adalah Kartini bagiku. Bagaimana dengan Anda? Adakah seorang Kartini yang bersinggasana dalam kehidupan Anda saat ini? Jika Anda telah menemukannya, jagalah ia. Aku yakin ibuku sedang membuat kue ketika aku menulis artikel ini. Ibu, aku ingin pulang dan menemuimu malam ini juga. Akan kutemani dirimu menghabiskan malam ini untuk menghasilkan uang.

Salam dari anakmu,
Anom Harya