Tata Ruang Parama Shanti

Ilustrasi Perdamaian
Ilustrasi Perdamaian

Menarik sekali saat saya membaca sebuah artikel tulisan Gede Prama. Beliau adalah seorang motivator yang berlandaskan spiritual. Dalam tulisannya kali ini, beliau berkomentar tentang kegiatan pengeboman di Bali. Kira-kira cocok-lah untuk diresapi ketika Indonesia sedang diguncang bom bunuh diri yang terjadi di Solo. Berikut adalah artikel tersebut.

Kapan saja ada yang bertanya, kenapa Bali sampai dilukai bom teroris dua kali, selalu guru di dalam menjawabnya sederhana. Bom teroris serupa dengan lalat, ia hanya datang ke rumah-rumah yang kotor. Di rumah yang bersih, lalat mana pun tidak akan tertarik untuk datang. Mungkin itu sebabnya, akhir tahun 1970an pernah terdengar ada bom yang dikirim ke Bali, tapi meledak di sebuah bus malam di Jawa Timur.

Dengan demikian, bila ada niat pemerintah daerah untuk menata kembali ruang Bali, tidak saja perlu dibantu, tetapi juga layak ditempatkan sebagai bagian integral untuk mengembalikan  Bali agar kembali bersih. Dengan rumah bersih seperti ini, tidak saja lalat tidak tertarik datang, bersama-sama Bali bisa dibikin menjadi lentera dunia. Mirip dengan judul sebuah karya indah tentang Bali: Morning of the World. Mentari pagi yang menerangi kegelapan dunia.

Ruang di Dalam

Sebelum bergerak menata ruang di luar, sebaiknya kita menata dulu ruang di dalam. Tubuh manusia disebut tertata bila  kepala ditutup topi, kaki dilindungi sepatu. Hati dari mana kedamaian, keheningan, kesembuhan memancar adanya di tengah. Ia dilindungi cahaya kesadaran.

Dan siapa saja yang diberikan wewenang untuk menata Bali, tidak saja diingatkan untuk meletakkan dirinya sebagai kepala (baca: penuh pengabdian dan kemulyaan sebagai ciri utama mahluk atas), tetapi juga disegarkan memorinya bahwa manusia tidak saja terdiri dari kepala (para elit). Bali juga mencakup krama yang mengemis di pinggir jalan, warga desa yang hanya menonton kemajuan pariwisata, anak muda yang merindukan hanya pekerjaan. Dan menata Bali adalah menata keseimbangan kepala, hati, sekaligus kaki.

Sebagaimana letak hati di tengah, ketenangan, kedamaian, ketentraman lebih mungkin tercipta kalau kita semua kembali ke tengah. Jauh dari pemihakan berlebihan pada elit, atau terlalu berat ke bawah. Seperti menemukan keseimbangan naik sepeda, tidak mudah menemukan titik keseimbangan ini. Tapi sesulit apa pun, ia mesti dimulai.

Salah satu ciri khas Bali, keseharian manusianya penuh dengan persembahan. Mengacu pada praktek tetua, tidak saja sesajen menjadi persembahan, tarian, ukiran bahkan hidup pun serangkaian persembahan. Bila ini yang digunakan acuan, tatalah Bali dengan spirit persembahan. Bila mana perlu dengan sejumlah pengorbanan. Bagi orang biasa, pengorbanan memang menyakitkan, tapi di jalan spiritual pengorbanan adalah  rahasia  di  balik  banyak  sekali  kemulyaan. Sang Rama mengorbankan tahta ke adik tirinya Bharata agar kedamaian tercipta. Panca Pandawa ikhlas menjalani pembuangan di hutan belasan tahun agar ketentraman terpelihara. Dan lihat, berapa banyak kemulyaan yang telah dipercikkan kehidupan kepada mereka.

Bagi  sahabat yang tekun di jalan pengorbanan penuh ketulusan, mudah melihat Shiva di mana-mana. Fisikawan  Fritjoff Capra dalam The Tao of Physics menyebut atom sebagai the dancing of Shiva (tarian Shiva). Dalam bahasa tetua Bali, tarian semacam inilah parama shanti (damai yang maha utama). Awalnya memang yadnya (pengorbanan), begitu didalami berjumpa kebersatuan. Puncak kebersatuan bernama keheningan.

Damai di puncak keheningan inilah yang kemudian dipancarkan ke luar dalam bentuk pelayanan. Makanya ada tetua berpesan, ciri batin yang di dalamnya sudah tertata rapi ada tiga. Pertama, tidak lagi lapar termasuk tidak lapar akan pencerahan. Kedua, memeluk kehidupan dengan senyuman karena semuanya adalah tarian yang sama. Ketiga, senyuman terakhir kemudian dipancarkan dalam bentuk pelayanan.

Ruang di Luar

Uniknya Bali,  alam tidak saja mengukir keindahan, tetapi juga menjadi inspirasi keindahan. Mungkin itu sebabnya, ada hari-hari tertentu (contohnya tumpek pengatag) di mana manusia mengungkapkan hormat mendalam ke alam. Pesannya sederhana, setiap jengkal tanah Bali seyogyanya dijaga sebaik-baiknya. Mungkin ini yang menyebabkan tata ruang Bali dijaga rapi tidak saja melalui undang-undang (awig-awig), tetapi juga dengan mendirikan banyak sekali pura.

Dari sudut pandang lain, ruang yang tertata rapi tidak saja berhubungan dengan kerapian pemandangan, melainkan juga berkaitan dengan kerapian hidup manusia. Tidak kebetulan kemudian kalau salah satu konsep Tuhan ala tetua Bali bernama Bhur Bwah Swah. Alam atas, tengah, bawah berpelukan rapi dan asri. Bila di tempat lain Tuhan bermusuhan dengan setan, dalam Bhur Bwah Swah semuanya menyatu shanti tanpa pertentangan, tanpa perkelahian. Itu sebabnya, pura suci ada di gunung, ada juga di pantai.

Sebagaimana diakui sejumlah pihak  dari luar – belakangan malah disebut pulau dengan aroma cinta yang menawan – tetua yang melakukan pemetaan Bali dulunya tingkat kebijaksanaannya mengagumkan. Baik karena kedalaman yoganya, maupun karena saat itu masih sedikit terkena dampak buruk zaman kali yuga. Sebutlah Hyang Embang (Yang Maha Sunyi) sebagai sebutan Tuhan, upacara tidak saja diarahkan ke atas, memandang dan memperlakukan semuanya dengan rwa bhineda,  hal-hal seperti ini hanya mungkin datang dari yogi tingkat tinggi.

Diterangi cahaya pemahaman ini, menambahkan, mengurangi, apa lagi berkelahi atas nama kesucian bukanlah pilihan tepat untuk generasi kini. Pilihan tepatnya hanya melestarikan semua yang sudah ada. Kita sudah membayar dengan harga amat mahal berupa meletusnya bom teroris dua kali. Undangannya kemudian, jaga tatanan kosmik serapi dan sesuci mungkin. Di tempat-tempat di mana tetua sudah mewariskan tempat suci, lebih jauh radius kesucian dijaga lebih baik.

Pengertian menjaga radius kesucian tidak saja menyangkut fisik, juga perilaku kita ketika melakukan penataan. Coba perhatikan cara tetua Bali menata warna di pura. Dulunya, sarung warna hitam-putih yang membungkus patung di pura hanya tersedia di luar (jabaan) pura. Sementara di bagian terdalam (mandala utama) warna yang digunakan menutup pelinggih hanya putih-kuning. Maknanya sederhana, dualitas hitam-putih, benar-salah, suci-kotor tempatnya di luar. Namun, di dalam hanya tersisa sintesa putih-kuning. Tidak ada pertentangan, apa lagi perkelahian dalam sintesa putih-kuning. Bagi pemeluk Shiva-Buddha tahu, kuning selalu membungkus putih karena aspek Buddha (pengertian, pengorbanan, kasih sayang) yang  ditonjolkan, sedangkan aspek Shiva (keheningan, kekosongan, kesempurnaan) hanya boleh menjadi wilayah rahasia.

Menganggap diri benar orang lain salah, membuat penataan sejak awal seperti warna hitam-putih di luar pura. Di sinilah kearifan sintesa putih-kuning diperlukan. Tatkala ada orang yang berpendapat berbeda, belum tentu salah apa lagi jahat. Mungkin kita masih gagal memahaminya. Kuning yang menutupi putih dalam konteks ini berarti diperlukan pengorbanan berupa kesabaran untuk mendengar orang lain. Bila mana perlu berkorban ke pihak lain. Sebagaimana cerita sebelumnya tentang Sang Rama, Panca Pandawa, pengorbanan membukakan pintu bagi berlimpahnya kemulyaan kemudian. Inilah tanda ruang di dalam yang telah tertata rapi berjumpa dengan ruang di luar yang tertata asri. Sebuah tata ruang Parama Shanti.

Semoga tulisan di atas bisa menginspirasi kita semua untuk turut berperan dalam menciptakan kedamaian dunia. Tebarkan senyum sebagai langkah awal dan yang paling sederhana agar semua orang bisa saling menghargai.

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya,
Sukses untuk kita semua

Sumber : blogdetik

You may also like

Leave a Reply