Gowes Jelajah Bali : Bedugul

Suasana jalan menuju Bedugul, tepatnya di daerah Petang.
Suasana jalan menuju Bedugul, tepatnya di daerah Petang.

Pada saat liburan di Bali, tepatnya pada bulan Februari 2012 saya juga gowes menuju Kebun Raya Bedugul yang terletak di Kabupaten Tabanan. Ada yang unik dari perjalanan ini dibanding perjalanan sebelumnya. Saya yang sebelumnya gowes sendirian kini mendapat teman setelah secara tidak sengaja bertemu mereka di tengah perjalanan.

Pagi itu, Jumat (03/02/12) aku membulatkan tekadmu untuk gowes ke Kintamani. Entah ada apa di Kintamani, aku tidak tahu. Yang ada di dalam benakku adalah aku harus gowes kesana selama liburan di Bali. Kira-kira pukul 04.30 WITA aku bangun tidur dan mandi serta mempersiapkan perlengkapan untuk gowes hari ini. Setelah persiapan lengkap, aku berpamitan dengan keluarga besarku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Tentu aku berpamitan dengan mereka yang sudah bangun tidur dan bersiap-siap untuk bekerja. Ketika berpamitan, aku diminta untuk sarapan terlebih dahulu. Daripada perut tidak enak ketika bersepeda, lebih baik aku menolaknya dan meminta kopi saja. Toh kopi bisa meningkatkan pembakaran kalori selama berolahraga. Itulah yang aku cari selama bersepeda ria selama ini, KESEHATAN dan KEPUASAN.

Setelah menghabiskan secangkir kopi panas di pagi itu, aku berpamitan ke keluargaku. Aku berpamitan untuk menuju Kintamani, entah kemana itu, dan bagaimana aku mencapainya. Keluarga awalnya ragu karena aku bukanlah orang yang lama tinggal di daerah ini, terlebih tinggal di Bali. Yang ada saat itu hanyalah BONEK, Bondo Nekat 😀

Karena berhasil meyakinkan keluarga, sekitar pukul 06.00 WITA aku mulai keluar dari pagar rumah dan mengayuh pedal sekencang mungkin. Arah gowes saat itu adalah menuju Pasar Mambal (Kab. Badung) dan kemudian bergerak ke arah Kabupaten Gianyar. Di sepanjang perjalanan aku melihat ada rambu-rambu penunjuk yang mengarahkan pengguna jalan untuk mencapai Kintamani. Aku ikuti saja rambu-rambu tersebut dan sampailah di Desa Singapadu (Perbatasan Kab. Badung & Kab. Gianyar).

Di desa ini aku bertemu dengan beberapa orang goweser yang berhenti di pasar. Ketika aku temui dan mengobrol sedikit, ternyata tujuan mereka adalah mengunjungi Sangeh. Ah, kalau Sangeh, aku bisa mencapainya meski dengan menggunakan sepeda lipat sekalipun. Sebagai informasi, tahun lalu aku juga gowes di Bali namun menggunakan sepeda lipat. Sangeh adalah hutan alami yang berada di Desa Sangeh (Kec. Abiansemal, Kab. Badung). Hutan ini menjadi tempat perlindungan bagi hewan sekitar, terutama kera. Tempat ini sering dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun wisatawan asing. Tapi sayang, di liburan ini aku tidak mampir ke Sangeh karena padatnya jadwal gowesku. Hehe.

Jersey Batan Blimbing Club, Gianyar - Bali
Jersey Batan Blimbing Club, Gianyar - Bali

Karena tujuan goweser tadi adalah Sangeh, aku berpamitan dan bertanya sedikit bagaimana cara untuk menuju Kintamani. Ada sedikit informasi yang mereka berikan dan aku pun berpamitan untuk kembali mengayuh pedal sepedaku. Sekitar 10 menit gowes mengikuti arah yang disarankan oleh goweser tadi, aku bertemu dengan 6 orang goweser di tengah perjalanan. Mayoritas dari mereka menggunakan jersey berwarna kuning bertuliskan Batan Blimbing Club.

Bermodalkan keberanian dan percaya diri, aku melambatkan kayuhan dan sedikit membuka obrolan, “Halo pak, mau kemana rombongan ini?“. Salah satu dari mereka pun menjawab, “Kami mau ke Bedugul. Anda mau kemana?“. Aku menjawab, “Saya mau ke Kintamani, apa betul jalurnya lewat sini?“. Ada yang membalas, “Oh, betul. Silahkan terus mengikuti jalur ini“.

Aku ragu dengan tujuan awalku yang terkesan berantakan dan kurang persiapan. Aku tidak tahu bagaimana Kintamani, bagaimana cara mencapainya, dan dengan siapa aku mencapainya. Daripada tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol di tengah perjalanan, aku pun meminta ijin kepada rombongan ini untuk turut bergabung menuju Bedugul. Senangnya hati ketika diijinkan untuk bergabung bersama mereka. Aku pun memulai petualangan hari itu untuk gowes menuju Bedugul.

Jalur yang kami lewati memang semuanya aspal halus. Tapi dari pengamatanku, jalur yang kami lewati adalah jalur alternatif dimana tidak banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang mengisi jalanan. Nah, jalur inilah yang aku sukai karena aku pernah membaca opini di sebuah website yang mengatakan bahwa percuma berolahraga (tepatnya bersepeda) jika dilakukan di tengah-tengah kawasan yang banyak terdapat asap kendaraan bermotor. Aku bersyukur sekali diberi kesempatan untuk mengetahui jalur alternatif Petang – Bedugul.

Melewati jalur alternatif tidak mengurangi sudut kemiringan jalan. Bedugul yang terletak lebih tinggi dibanding Badung membuat kami harus mengayuh pedal ekstra agar bisa menaklukkan tanjakan demi tanjakan. Untung saja langit waktu itu tidak terlalu terik. Sinar matahari yang sedianya menerangi Bali menjadi agak redup karena tertutup oleh awan. Meskipun kami harus melalui jalan menanjak dengan kondisi langit yang agak gelap, pemandangan di sekitar masih tetap indah. Ya siapa juga yang bilang bahwa Bali tidak indah? 😀

Tikungan, Turunan, Tanjakan
Tikungan, Turunan, Tanjakan

Setelah melewati kawasan kebun warga yang terletak di Kec. Petang, kami sudah memasuki wilayah Kabupaten Tabanan. Jalur yang awalnya aspal halus berubah menjadi aspal rusak. Begitu juga dengan tanjakannya yang menjadi semakin ganas. Banyak sekali jalur yang menikung tajam, dimana kami harus menuruni bukit kemudian menanjak dengan kemiringan lebih dari 40 derajat. Jalur ini mau tidak mau membuat beberapa goweser turun dan menuntun sepedanya hingga puncak tanjakan. Kemudian turun bukit lagi dan menuntun kembali hingga puncak tanjakan. Kalau diingat-ingat, seru juga pengalaman gowes waktu itu 😀

Setelah gowes sekitar 5 jam (termasuk istirahat di tengah perjalanan), kami memasuki jalan utama Denpasar Bedugul. Saat itu matahari mulai terik dan panasnya menyengat kulit. Banyak sekali mobil, motor, dan bahkan bus yang lalu lalang di jalan ini. Ah, rasanya ingin pulang karena situasi gowes mulai tidak kondusif. Rombongan yang fisiknya kuat *termasuk saya B-) berada di depan dan jauh meninggalkan anggota rombongan lainnya. Saya pun mengambil keputusan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu anggota rombongan yang lain. Sekitar 45 menit menunggu, mereka baru terlihat dan kami pun melanjutkan perjalanan.

Petunjuk yang aku baca waktu itu menyebutkan bahwa Bedugul bisa dicapai 1,5 km lagi. Kami lebih bersemangat untuk mengayuh pedal dan kebetulan pula jalanan sudah mulai bersahabat karena didominasi oleh  jalan turun. Akhirnya sampailah kami di Kebun Raya Bedugul.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WITA, saatnya bagi kami untuk makan siang. Kebun Raya Bedugul tidak memperbolehkan pengunjung masuk kawasan wisata menggunakan kendaraan roda dua. Jadi, mau tidak mau kami harus makan siang di lapangan parkir. Syukurlah lapangan parkir di tempat wisata ini tidak panas karena diteduhkan oleh pohon-pohon besar. Kami pun mulai makan pada siang itu dengan menu yang telah dibeli dari pedagang setempat.

Kebun Raya Bedugul
Kebun Raya Bedugul

Makan siang sudah selesai, kami ngobrol sebentar. Tak terasa obrolan ini telah mengisi waktu kami hingga sekitar pukul 15.00 WITA. Kami memutuskan untuk pulang sebelum kehujanan di jalan karena siang itu langit yang awalnya cerah berubah menjadi gelap kembali. Sebelum meninggalkan Kebun Raya Bedugul, kami sempatkan untuk berfoto bersama di depan pintu masuk. Foto tersebut diambil oleh petugas jaga pintu masuk yang sudah kami mintai tolong sebelumnya.

Perjalanan pulang saat itu terasa asyik karena kami menuruni bukit Bedugul yang memiliki banyak tikungan tajam. Saat memasuki desa Baturiti (sekitar pukul 16.00 WITA), kami diminta mampir ke rumah saudara salah satu goweser yang ikut dalam rombongan. Disana kami mendapat jatah makan kembali dengan menu prasmanan. Jadilah gowes seharian ini penuh dengan makanan yang masuk ke perut 😀

Langit sudah semakin gelap, menandakan malam akan datang. Kami berpamitan kepada keluarga pemilik rumah tersebut. Dalam perjalanan pulang, kami dihadang oleh hujan deras. Namanya juga petualang, hujan deras tak jadi masalah dalam petualangan kali ini. Hajar saja, yang penting sampai di rumah.

Jarak rumah sudah semakin dekat. Di persimpangan yang mengarah ke Gianyar serta rumahku (tepatnya persimpangan di Pasar Mambal) kami harus berpisah. Terasa hangat sekali genggaman tangan bapak-bapak tersebut di sore itu. Aku belum mengenal mereka, begitu juga mereka yang belum mengenalku. Inilah keuntungan dari bersepeda yang selama ini telah aku rasakan. Jika dibuat pepatah, bisa aku katakan : Satu sepeda, sejuta saudara.

Kami berpisah dan menuju rumah masing-masing. Berakhirlah petualangan hari ini, dengan catatan bahwa keluargaku (di Jawa dan di Bali) khawatir karena aku baru pulang di sore hari itu. Aku jadi tidak enak pada mereka. Di kesempatan ini aku mau mengucapkan maaf karena telah membuat khawatir. Semoga di lain waktu tidak ada lagi yang khawatir terhadap diriku dan petualanganku. Terima kasih juga kepada anggota Batan Blimbing Cycling Club yang sudah mengantar diriku menuju Bedugul. Pengalaman hari ini sungguh mengasyikkan pak 🙂

Semoga tulisan ini menginspirasi banyak orang untuk bersepeda. Banyak yang Anda dapatkan dengan bersepeda. Rasakan sendiri, dan berikan komentar Anda terhadap keuntungan bersepeda ke orang lain yang belum pernah merasakannya.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Sukses untuk kita semua.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply