Gowes Jelajah Cangar (25-03-12)

Titik awal gowes di Cangar.
Titik awal gowes di Cangar.

Pada Minggu, 25 Maret 2012 ada 9 orang yang terlibat membuka track gowes. Kami yang tergabung dalam komunitas Gowes Jelajah saat itu berangkat menggunakan 1 buah pickup dari Kota Malang. Berangkat sekitar pukul 06.45 WIB, kami menuju Cangar yang merupakan dataran tinggi di Malang.

Daerah Cangar merupakan kawasan yang masih hijau karena banyak hutan yang mengelilinginya. Track yang kami lalui sepertinya belum pernah dijamah oleh pesepeda manapun karena tidak ada bekas ban sepeda maupun jejak yang lainnya. Track yang kami lewati adalah jalur warga dalam membawa hasil bumi berupa sayur dan umbi-umbian dari sawah menuju tempat pengumpulannya.

Track gowes diawali dengan tanjakan setan sejauh lebih kurang 1 kilometer.
Track gowes diawali dengan tanjakan setan sejauh lebih kurang 1 kilometer.

Ada yang menarik dari jalur ini. Di awal perjalanan kami harus menghadapi tanjakan makadam sejauh lebih kurang 1 kilometer. Ketika dilacak dari aplikasi Google Earth, ternyata kami harus melibas bukit setinggi 120 meter dari titik awal gowes. Dari tanjakan ini kami bisa menikmati pemandangan daerah Cangar yang terdiri dari banyak bukit yang masih hijau. Pemandangan Kota Malang yang didominasi pemukiman pun bisa kami lihat di titik ini.

Solusi menghadapi jalan tanjakan.
Solusi menghadapi jalan tanjakan.

Meskipun tanjakan terasa berat, tidak ada rasa menyesal ketika harus melewatinya. Pak Royan yang merupakan tour leader dalam kesempatan kali ini memang kreatif dalam melibasnya. Beliau ternyata menumpang kendaraan warga sambil menarik sepedanya untuk melibas tanjakan ini. Tidak tanggung-tanggung, beliau numpang kendaraan sebanyak 2x. Di tumpangan pertama, beliau menghentikan sebuah motor untuk kemudian bersama-sama meniti tanjakan tanpa perlu sesak nafas *tinggal gas :)) Tapi sayang, usahanya terkendala jalur yang kurang bersahabat. Nuntun lagi deh sampai akhirnya bertemu dengan mobil jeep warga setempat yang akan menuju kebun.

Ada yang lucu dari ajakan Pak Royan ketika mempengaruhi teman-teman, “Ayo, sing ga weruh isin melu aku (Ayo yang ga punya malu, silahkan ikut aku)” :)) Mas Beni pun ikut nebeng mobil tersebut. Jadilah kami punya 2 teman yang tidak punya malu selama perjalanan (Pak Royan & Mas Beni).

Anting RD patah.
Anting RD patah.

Tanjakan setan yang jaraknya sekitar 1km sudah diatasi dan sekarang kami berada di puncak bukit. Oke, protektor dipasang agar tidak terjadi cedera berat ketika kami terjatuh selama gowes. Perjalanan dilanjutkan dengan menjelajahi jalur yang ada di sekitar perkebunan warga. Jalur tersebut terdiri dari tanah vulkanik yang setengah basah setelah beberapa hari lalu diguyur hujan. Meskipun setengah basah, kontur tanah yang padat ini tidak licin ketika kami lewati dengan sepeda.

Tepatnya di KM 2 dan waktu masih menunjukkan sekitar pukul 08.30 WIB, kami mau tidak mau harus berhenti karena ada masalah teknis di sepeda pinjaman Pak Royan. Ternyata anting RD yang menempel di sepeda tersebut patah secara tiba-tiba padahal tidak ada pemakaian ekstrim sebelumnya. Sepeda yang baru dibeli kurang dari 1 bulan inipun mau tidak mau harus single speed karena kami tidak membawa cadangan anting RD saat itu. Dengar-dengar, Pak Royan kapok atas kejadian ini dan sudah membeli 2 Anting RD untuk kemungkinan terburuk di kesempatan gowes berikutnya.

Kentang Rodalink.
Kentang Rodalink.

Sementara Saya dan Mas Rockmad Dyan memperbaiki sepeda, teman yang lain malah asyik memakan bekal masing-masing. Ada yang jadi perhatian kami saat momen tersebut. Pak Wahyu yang sebelumnya janji membawa kentang rebus, membawanya sambil dibungkus tas kresek yang bertuliskan Rodalink. Ada celetukan yang menyebutkan bahwa Rodalink sekarang sudah mengembangkan sayap untuk memproduksi Kentang Rebus. Semoga tulisan ini dibaca pihak Rodalink dan membuat mereka tersenyum-senyum sendiri 😀

Tanya jalur yang bisa dilewati ke warga setempat.
Tanya jalur yang bisa dilewati ke warga setempat.

Sepeda yang dipakai Pak Royan sudah beres dan siap dipakai menjelajah kembali (dengan single speed tentunya). Kami lanjutkan perjalanan sekitar pukul 10.00 WIB dengan medan yang lebih menantang. Sepanjang perjalanan buta yang kami lakukan saat itu, tidak ada satupun peserta yang sebelumnya pernah melewati jalur ini. Jadilah kami hanya mengandalkan GPS dari Iphone Pak Royan yang sengaja dipasang di handlebar dengan sebuah mounting untuk gadget.

Urusan nyasar di jalan sudah biasa. GPS ternyata tidak sepenuhnya menunjukkan jalur yang benar kepada kami. Mau tidak mau, kemampuan berkomunikasi dengan warga sekitar harus kami keluarkan untuk sekedar bertanya tentang jalur warga yang bisa kami lewati. Syukurlah warga Cangar masih baik dan mau menunjukkan jalur yang bisa kami lewati dengan sepeda.

Sesampainya di jalur yang berada di tebing bukit, kami berhenti sejenak untuk menghabiskan bekal makanan yang masih tersisa di dalam tas. Kebetulan ada seorang kawan kami (Pak Mitro) yang berulang tahun beberapa hari yang lalu. Pak Royan yang dasarnya gokil langsung mengambil potongan roti dan lilin ulang tahun yang ternyata masih ada di tasnya. Sebagai informasi, lilin ulang tahun tersebut sudah pernah dipakai untuk merayakan ulang tahun Mas Fuad ketika kami sedang gowes. Tak apalah, toh tidak mengurangi kebahagiaan kami saat itu.

Selamat ulang tahun Pak Mitro.
Selamat ulang tahun Pak Mitro.

Tidak ada warga yang berada di sekitar kami karena memang lereng ini masih perawan alias belum diolah. Suasana makin seru ketika lilin dihidupkan dan kami menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” kepada Pak Mitro sambil bertepuk-tepuk tangan. Di akhir lagu, Pak Mitro meniup lilin yang berliuk-liuk ditiup angin. Fyuuuuhhh… Lilin sudah ditiup dan kami semua tertawa karena kegokilan ini. Melalui tulisan ini, saya juga ingin mengucapkan (kembali) kepada Pak Mitro : Selamat ulang tahun Pak Mitro, semoga bisa menjadi manusia yang lebih dewasa di usia yang semakin bertambah 🙂

Naik turun bukit yang masih perawan.
Naik turun bukit yang masih perawan.

Petualangan dilanjutkan kembali setelah bekal yang ada di tas telah habis. Track yang kami hadapi semakin menantang karena menuruni bukit dan menyusuri tebingnya. Di spot ini banyak sekali persimpangan jalur yang membuat kami harus bolak-balik melihat GPS dan bahkan bertanya pada warga setempat yang kebetulan ada di sekitar kami.

Yes, perjalanan ini makin asyik ketika kami harus menuruni bukit yang telah dikonversi menjadi kebun apel oleh warga. Jalur ini telah familiar bagiku karena track gowes di Cangar memang melewati spot ini.

Ban bocor di sekitar kebun Apel.
Ban bocor di sekitar kebun Apel.

Gambaran sederhana tentang track di sekitar kebun apel adalah turunan makadam yang tentunya menyiksa suspensi sepeda kami. Mau bagaimana lagi, sepeda Pak Royan yang sudah single speed karena anting RD-nya patah tidak bisa merasakan empuknya sepeda fullsus karena suspensi belakang sepedanya harus dimatikan. Kasian sekali beliau karena harus bolak balik mengganti komposisi gear secara manual (berhenti, memindahkan rantai dengan tangan).

Saking asyiknya menuruni tanjakan makadam di sekitar kebun apel dengan kondisi ban yang setengah kempes membuat salah satu teman kami mengalami pecah ban dalam. Alhasil, kami berhenti dulu di sekitar kebun apel untuk menambal ban dalam tersebut. Sembari menunggu Mas Rockmad Dyan menambal ban secara darurat, saya mendekati para petani yang ada di perkebunan. Lumayan, dari hasil pendekatan ini kami diberi beberapa buah apel khas Malang yang berwarna hijau dan kecil-kecil ukurannya.

Makan siang di sekitar Alun-alun Kota Batu.
Makan siang di sekitar Alun-alun Kota Batu.

Tambal ban sudah beres, saatnya pulang menuju Kota Malang. Tapi tunggu dulu, hujan ternyata turun dengan lebat ketika kami akan beranjak pergi dari spot ini. Bangunan bekas warung yang ada di sekitar kami pun jadi tempat untuk berteduh hingga hujannya lebih bersahabat.

Setelah hujan agak reda, kami menuruni jalur aspal yang menuju ke arah Wana Wisata Coban Talun. Dari tempat wisata ini kami bisa menjelajah kembali dengan melewati daerah pinggiran yang suasananya masih asri.

Tak terasa, kami semua belum makan siang. Waktu yang saat itu menunjukkan pukul 14.30 WIB memaksa kami untuk segera makan. Kami putuskan untuk makan siang di sekitar Alun-alun Kota Batu. Ketika kami datang, cuaca masih agak gerimis. Para konsumen pujasera di tempat kami makan awalnya memiliki pandangan mata yang aneh terhadap kami. Cuek saja lah, toh yang penting perut kami bisa terisi 😀

Syukurlah seharian bisa menjelajah bersama sahabat-sahabat yang setia dari komunitas Gowes Jelajah. Petualangan ditutup dengan berpisahnya kami di persimpangan menuju rumah/kos masing-masing.

Terima kasih sudah berkujung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua.

You may also like

Leave a Reply