Gowes Jelajah Dingklik – Welang (10/03/13)

14/03/2013 at 14:12
Jumping di jalur Dingklik - Welang

Aksi mas Lathiev di jalur Dingklik – Welang

Pagi itu terasa asyik sekali karena sekitar 30 orang dapat berkumpul di Plaza Elektronik (Blimbing) yang menjadi meeting point rombongan. Kami yang dari rumah sudah mempersiapkan diri untuk menjelajah track Dingklik – Welang menjadi makin siap tempur setelah menyantap sarapan. Ada yang unik dari sarapan pagi kami. Bukan dari menunya, melainkan kertas pembungkus nasi yang terdapat kode tertentu sebagai kupon hadiah. Ada botol, handuk kecil, dan t-shirt yang semuanya dipersembahkan oleh mas Tomy yang juga merupakan salah satu karyawan di PT Insera Sena (Produsen Polygon). Saking asyiknya makan bersama di pinggir jalan, sampai tidak tahu kalau ternyata banyak pengguna jalan yang melihat kami. Ah, masa bodoh. Yang penting bisa merasakan momen kehangatan saat makan bersama keluarga besar komunitas Gowes Jelajah. Hehehe.

Makan di pinggir jalan besar di Kota Malang..

Makan di pinggir jalan besar di Kota Malang..

Setelah perut terisi dan sepeda sudah dimasukkan ke dalam truk, sekitar pukul 07.15 WIB kami berangkat menggunakan 2 buah truk yang masing-masing disewa dengan harga Rp 800.000. Sebenarnya ada 2 buah truk lainnya yang juga berangkat namun tidak berkumpul dulu di Plaza Elektronik bersama kami. Mereka yang bergabung dalam 2 truk lainnya merupakan anggota dari komunitas Pedal Alas, Gowes Tahes (GT), dan Weekly Riders. Sedangkan 2 truk yang kami tumpangi merupakan gabungan dari anggota komunitas Gowes Jelajah dan Komunitas Sepeda Kaskus Malang (Koskas Malang).

Perjalanan berkelok-kelok yang merupakan jalur khas menuju pegunungan sangat menghibur mata karena banyak sekali dominasi warna hijau di sekitar jalan. Menempuh perjalanan dari Malang yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam di atas truk harus dilalui dengan banyak canda tawa agar dapat mengusir rasa bosan. Sialnya, ketika menanjak di daerah Wonokitri truk kami selip karena bannya yang gundul menyentuh pinggiran jalur aspal yang merupakan tanah licin. Karena jam 10 pagi merupakan jam padat untuk kendaraan jip kembali dari Pananjakan, terciptalah kemacetan di tingkungan sempit tempat truk kami berhenti. Alhasil hampir semua penumpang di atas truk harus turun dan mendorong kendaraan agar dapat jalan kembali.

Pasukan Infantri Komunitas Gowes Jelajah. Hehehe..

Pasukan Infantri Komunitas Gowes Jelajah. Hehehe..

Perlu diketahui, jalur yang akan kami jelajahi berawal dari daerah Dingklik yang merupakan jalur menuju Pananjakan. Pananjakan merupakan spot yang paling dikenal wisatawan untuk menikmati momen terbitnya sang surya dari balik pegunungan Bromo. Jika berminat, sangat dianjurkan untuk mengunjunginya sebelum pukul 04.30 WIB. Selain itu, faktor cuaca juga harus dipertimbangkan. Jangan sampai mengunjungi Pananjakan hanya untuk melihat awan gelap (mendung) dan kabut tebal sehingga menghalangi pandangan menuju lautan pasir yang ada di bawah Pananjakan. Untuk menikmati pemandangan di Pananjakan dan sekitarnya, pengunjung diwajibkan membayar karcis retribusi Rp 5.000,00 / orang. Untuk motor masih diperbolehkan memasuki kawasan  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) dengan membayar karcis retribusi sebesar Rp 2.000,00. Namun untuk mobil, penumpangnya diwajibkan berganti kendaraan menggunakan jip / pickup + driver yang telah disediakan oleh warga setempat. Untuk tarif sewa jip + jasa driver, disarankan melakukan negosiasi terlebih dulu.

View Gunung Batok & Lautan Pasir dari daerah Dingklik

View Gunung Batok & Lautan Pasir dari daerah Dingklik

Sekitar pukul 10.30 WIB kami baru mengayuh pedal menjelajah track turunan. Tidak seperti kebanyakan track yang harus merasakan tanjakan dulu kemudian menikmati sesi downhill ringan, dari awal hingga akhir kami menikmati turunan yang disajikan dalam track ini. Jalur yang diawali dengan turunan sedikit licin karena berlumut terhitung cukup lebar. Terbukti ada beberapa pickup yang dapat menjangkau jalur kami. Selain licin, terdapat beberapa lubang bekas aliran air di beberapa titik jalur yang tentunya wajib diwaspadai. Jalur lebar dan licin tersebut menyempit setelah kami memasuki sebuah desa (Desa Ngawu) yang kemudian berganti menjadi pematang kebun sayur milik warga setempat.

Menjelajah pematang kebun membuat kami lebih menikmati jalur karena makin banyaknya pemandangan berupa bukit hijau dan bergaris-garis horisontal mengikuti kontur bukit. Ada jalur yang dapat dinikmati dari atas sepeda, ada juga yang harus dilewati dengan menuntun sepeda. Meskipun sudah menuntun sepeda saat menuruni bukit curam dan licin, ada saja yang tergelincir karena sepatu kekurangan gaya geseknya terhadap tanah. Ketika menghadapi jalur Dingklik – Welang sangat disarankan untuk menggunakan sepatu dengan sol yang kuat dan tidak gundul.

Pemandangan bukit di kawasan Pegunungan Bromo

Pemandangan bukit di kawasan Pegunungan Bromo

Dengan melewati gapura perbatasan desa Ngadirejo dan Mororejo, artinya Jalur Dingklik – Ngadirejo sudah kami lewati. Kini saatnya kami menjelajah jalur Ngadirejo – Tutur (Nongkojajar) yang dimulai dari belokan di sebelah SDN Ngadirejo I (Kab. Pasuruan). Di awal jalur ini, kami disajikan dengan singletrack membelah perkebunan sayur yang tumbuh subur di lahan miring perbukitan. Banyak warga setempat bermata-pencaharian sebagai petani dengan membawa segala peralatan berkebunnya yang kami temui di sepanjang singletrack.

Hujan gerimis ringan disertai kabut tipis mewarnai petualangan di siang itu. Ada sebuah jalur yang sangat berkesan bagiku karena kondisi alamnya yang memang cepat berubah. Dengan semak-semak yang tumbuh sangat cepat dan terkesan tidak rapi di punggungan bukit, kami harus berlomba-lomba melawannya dengan cara sedikit menundukkan badan dan mungkin turun dari sepeda jika semak-semak tersebut sudah sangat melintang di jalur. Selain semak-semak yang tumbuh sangat cepat, jalur turunan berbentuk U (U-turn) dan licin juga harus membuat kami sedikit menahan laju sepeda dan bahkan menuntunnya agar tidak ‘kebablasan’ jatuh. Jangankan ketika berada di atas sepeda, menuntunnya pun saat melewati tikungan U ini bisa tergelincir. Jadi berhati-hatilah dalam menghadapi U-Turn khas track Ngadirejo.

Penghalang alami di jalur Ngadirejo

Penghalang alami di jalur Ngadirejo

Mendekati pemukiman warga, kami disuguhi dengan jalur yang melewati perkebunan apel manalagi yang buahnya sedang tumbuh lebat. Dengan tanpa pagar dan posisi pohon yang berada di sebelah kami, sebetulnya apel yang saat itu sedikit memerah dapat dipetik dengan mudah. Jika kelaparan, saya yakin apel di kebun itu sudah berpindah posisi dari pohon menuju tas. Hehehe.

Memasuki kawasan Pasar Nongkojajar, rombongan beristirahat sejenak di sebuah Masjid untuk melakukan ibadah dan reload bekal untuk melanjutkan perjalanan menjelajah track berikutnya. Dengan momen ini, berakhir pula penjelajahan track Ngadirejo – Tutur (Nongkojajar).

Setelah perut terisi dan anggota rombongan yang beragama Islam melaksanakan ibadah, sekitar pukul 3 sore kami kami lanjutkan agenda menjelajah track Tutur – Welang. Track yang diawali dengan menjelajah makadam khas daerah pedesaan ini banyak memakan korban material seperti pecah ban dan patah RD. Terhitung 3x pecah ban dialami oleh sepeda yang sama dan patah RD pada sepeda lainnya sekitar pukul 4 sore. Kejadian ini mau tidak mau memperlambat laju rombongan yang diperkirakan sudah mencapai finish maksimal pukul 5 sore.

Bagaimana tidak terlambat? Sekitar pukul 5 sore kami masih berada di tengah hutan dengan nyamuknya yang ganas. Ketika hari mulai gelap, ada beberapa kawan yang bahkan berkata pada saya bahwa mereka patah semangat. Wah, patah semangat di tengah hutan itu berbahaya karena dapat mengurangi fokus dalam menghadapi obstacle yang ada di depan mata.

Sedikit tanjakan di jalur Tutur - Welang

Sedikit tanjakan di jalur Tutur – Welang

Tidak terhitung berapa batu besar yang harus kami lewati di track Tutur – Welang. Rapatnya pepohonan, jalan berkelok-kelok menghindari batu seukuran kepala orang dewasa, dan kondisi langit yang makin gelap ditambah sedikit pressure untuk menambah kecepatan mau tidak mau menjadi tantangan bagi sekitar 8 orang yang saat itu masih bersamaku. Di tengah hutan kami mendengar bunyi Adzan Maghrib yang menandakan waktu sudah mendekati pukul 6 sore. Sebenarnya bunyi Adzan tersebut juga makin meningkatkan kepercayaan diri kami karena posisi pemukiman yang merupakan finish dari jalur Tutur – Welang sudah dekat.

Syukurlah, dengan jumlah anggota rombongan yang lengkap dan tidak ada hambatan berarti selama di jalan – kami mencapai finish pada pukul 18.15 WIB. Dari sekitar 9 orang yang berada di rombongan ini, hanya 3 diantaranya yang menggunakan lampu sebagai penerangan. Sisanya hanya mengandalkan kekuatan mata dan bantuan dari cahaya langit yang saat itu sedikit demi sedikit menjadi makin gelap. Terima kasih semesta. Hehehe.

Oleh - oleh dari jalur Dingklik - Welang

Oleh – oleh dari jalur Dingklik – Welang

Sesampainya di finish kami bertemu dengan beberapa anggota rombongan yang sudah sampai terlebih dulu. Rasa maaf dan terima kasih tak henti-hentinya kami ucapkan karena sudah mau menunggu hingga gelap. Lokasi finish yang berada di pinggir jalan aspal tanpa penerangan membuat kami sedikit kesusahan mengenali satu per satu orang yang ditemui untuk menyampaikan salam perpisahan.

Tak terasa, sekitar pukul 7 pagi kami berangkat dan terhitung 12 jam kemudian kami pulang dengan menggunakan truk yang sama menuju Kota Malang. Kini saatnya kami menggunakan sisa tenaga yang ada untuk menempuh perjalanan sekitar 1 jam menuju Kota Malang. Indahnya pengalaman hari Minggu itu. Kebersamaan kami memang selalu diuji dengan beberapa kendala yang dihadapi di track. Namun syukurlah kendala tersebut bisa dilalui bersama. Jika saya boleh mengeluarkan kata-kata pepatah, “Satu sepeda, sejuta saudara” mungkin adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan indahnya kebersamaan di hari itu.

Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah terlibat dalam Gowes Bersama Jelajah Dingklik – Welang (10/03/13). Semoga di kesempatan berikutnya kita bisa bersama-sama menjelajah kembali. Mari sebarkan semangat kebersamaan melalui kegiatan bersepeda.

*Untuk file GPS dari track Dingklik – Welang (10/03/13) bisa didownload disini.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua.