Gowes Jelajah Hutan Lindung Bedugul (Bali) : Track Downhill yang disebut All Mountain

Bersiap menghadapi Drop Miyabi
Bersiap menghadapi Drop Miyabi

Bali selalu punya ‘senjata’ untuk menarik wisatawan berkunjung. Saya yang hanya beberapa hari di Bali diberi kesempatan oleh komunitas Twenty Six Bike (Denpasar) dan Babuang Buntut (Ubud) untuk mencoba track Hutan Lindung Bedugul. Berangkat dari Denpasar menggunakan mobil, sekitar 90 menit kemudian kami sampai di titik awal track yang berada di dekat kawasan Kebun Raya “Eka Karya” (Bedugul, Bali).

Ketika memasuki hutan, jajaran hutan pinus yang satu sama lain berjarak sekitar 2 meter sudah menyambut di depan kami. Jalur yang dibuat berkelok-kelok menghindari pepohonan membuat saya teringat akan jalur Tutur – Welang yang terletak di daerah Pasuruan (Jawa Timur).  Ditambah lagi dengan dedaunan kering yang gugur dari pohonnya, menambah kesan kuat bahwa hutan ini wajib dicoba oleh mereka yang menyukai jalur Tutur – Welang.

Track Hutan Lindung Bedugul Mirip Tutur - Welang
Track Hutan Lindung Bedugul Mirip Tutur – Welang

Jika di Tutur – Welang tanah yang kami lewati mulus-mulus saja, kali ini obstacle yang kami hadapi adalah akar pepohonan. Akar-akar pinus yang sebesar tangan orang dewasa ‘menyembul’ keluar dari tanah dan membuat jalur kami semakin menantang. Dari akar-akar itulah tercipta beberapa drop off berukuran kecil hingga besar yang jika dilewati dengan kecepatan tinggi akan membuat sepeda melayang.

Drop alami yang terbuat dari akar. Dimodifikasi sedikit jadi lebih mantap..
Drop alami yang terbuat dari akar. Dimodifikasi sedikit jadi lebih mantap..

Untuk jalur yang kurang curam, akar-akar tersebut dibiarkan apa adanya sehingga tercipta root section yang membuat sepeda seakan menuruni tangga. Namum jika jalur yang dilewati curam, kawan-kawan dari komunitas sepeda setempat mengubahnya agar lebih menantang namun tetap aman. Dari pantauan saya, ditambahkan karung-karung dan kayu untuk menahan tanah agar tidak longsor. Hasilnya, drop off setinggi kira-kira 3 meter masih tetap asyik untuk dilewati.

Drop Miyabi
Drop Miyabi

Meskipun terdapat beberapa drop off tinggi, masih ada ‘chicken way’ bagi kawan-kawan yang belum siap menghadapinya. Chicken way sengaja tidak dibuat semudah mungkin. Jika di jalur utama terdapat ‘Drop Miyabi‘ yang tingginya hampir 3 meter, di chicken way masih ada drop yang tingginya kurang dari 50cm. Masih aman bagi para pemula yang ingin cepat-cepat naik kelas. Hehe.

Chicken Way dari Drop Miyabi
Chicken Way dari Drop Miyabi

Untuk menghasilkan obstacle yang halus, tentu tidak sekedar menerima hasil alam. Kawan-kawan komunitas sepeda di Bali sangat peduli terhadap kondisi track. Terbukti sesekali mereka memeriksa kondisi obstacle yang akan kami hadapi. Jika kurang aman untuk dilewati, cangkul yang disimpan di mobil siap dikeluarkan untuk memodifikasi obstacle yang kurang baik. Cara mereka mencoba track yang telah dimodifikasi pun membutuhkan kerja tim yang baik. Setengah rombongan bertahan dengan alat-alat perbaikan track, sisanya kembali menuju atas untuk mecoba track yang telah dimodifikasi. Jika kurang aman dan nyaman, perbaikan dilakukan kembali dan tim ‘surveyor’ kembali mengambil posisi.

Jalur sepanjang hampir 4 km ini memiliki kesan tersendiri bagi saya. Sebelum mengunjunginya, kawan-kawan yang menemani saya berkata bahwa track ini bertipe All Mountain. Saya yang memang pecinta berat track All Mountain bersemangat begitu mengetahui track ini sesuai dengan kesukaan saya. Pertama kali mencobanya, saya kaget karena ada banyak drop off tinggi yang tentu saya sendiri tidak biasa menghadapinya di track AM. Namun begitu melihat kawan-kawan Twenty Six Bike & Babuang Buntut tidak kesulitan dalam menghadapinya, saya pun panas dan akhirnya ‘keracunan’ juga. Hehe.

Keracunan, ikut ngedrop yang pendek-pendek saja
Keracunan, ikut ngedrop yang pendek-pendek saja

Saran saya, jika ingin mengunjunginya pastikan sepeda dan fisik Anda dalam kondisi prima untuk obstacle semacam berm, root section, dan juga drop off. Jika terpaksa harus gowes di track ini dengan kondisi kurang memadai, masih ada pilihan ‘chicken way’ yang tentunya lebih aman dari jalur utama. Yang pasti, utamakan keselamatan dan kenyamanan saat gowes. Bukankah kita gowes untuk bersenang-senang? 🙂

Bersama dengan tulisan ini saya ucapkan terima kasih kepada Bli Arik TSB yang sudah mengajak saya untuk gowes di jalur Hutan Lindung Bedugul. Terima kasih kepada Bli Widhy Boim yang sudah repot-repot membawa kamera DSLR dan mendokumentasikan kegiatan kami selama di track. Selain itu terima kasih juga kepada kawan-kawan dari komunitas Twenty Six Bike (TSB) dan Babuang Buntut yang telah mengijinkan saya turut bergabung dalam kegiatan gowes kawan-kawan.

Jika ada yang ingin bersepeda di jalur ini atau sekedar memberikan masukan karena telah mencoba track dan merasa ada kekurangan, saya rekomendasikan Anda untuk menghubungi Bli Arik (083114617112).

Sekian ulasan dari saya mengenai track Hutan Lindung Bedugul.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua.

Wajib Dibaca Juga

2 Comments

  1. benny indrawan
    26/01/2015

    istimewa penjelasannya…matur suwun

    Reply
    1. Anom Harya
      Anom Harya
      12/02/2015

      Terima kasih juga sudah berkunjung om 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *