Desa Penglipuran – Bali yang Sebenarnya

Desa Penglipuran - Bali yang Sebenarnya
Desa Penglipuran – Bali yang Sebenarnya

Berbicara mengenai Pulau Bali, sepertinya tidak akan habis jika kita ingin merewiew tempat wisata yang ada di dalamnya. Dalam kesempatan ini saya sempat jalan-jalan ke Desa Penglipuran yang berada di daerah utara Pulau Bali. Penasaran? Cekidot gan!!

Desa Penglipuran / Panglipuran adalah sebuah desa wisata yang ditata sedemikian rupa sehingga lebih unik dibanding desa lainnya di Pulau Bali. Terletak sekitar 6 km di sebelah utara pusat Kabupaten Bangli, berdiri puluhan rumah dengan pintu gerbang yang nyaris seragam. Dikatakan seragam (namun tidak seragam) karena setiap rumah memiliki lokasi pintu gerbang yang saling berhadapan. Dikatakan tidak seragam (namun seragam) karena di depan pagar setiap rumah memiliki penghias berupa bunga, tempat duduk beton, dll yang berbeda-beda.

Beralih ke bagian di dalam pagar, terdapat bangunan yang harus dimiliki oleh setiap rumah : dapur. Dapur warga di Desa Penglipuran menjadi pusat perhatian saya karena fungsinya mirip dengan dapur yang dimiliki oleh dapur warga suku Tengger (suku yang mendiami sekitar Gunung Bromo). Selain untuk memasak, dapur juga digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu. Saat tamu memasuki rumah kita diarahkan oleh pemilik rumah menuju ke ruang tamu, warga Desa Penglipuran jaman dulu mengarahkan tamu mereka menuju ke dapur.

Panglipuran's Kitchen
Panglipuran’s Kitchen

Meski memiliki kesamaan fungsi dengan dapur warga Tengger, ada juga perbedaan yang saya tangkap dari pengamatan singkat. Warga suku Tengger tidak menggunakan dapurnya sebagai tempat tidur, sedangkan warga Penglipuran menggunakan dapur juga sebagai tempat tidur. Mengingat letaknya yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl, tentu menjaga kehangatan tubuh adalah alasan bagi mereka untuk meletakkan ranjang di dekat tungku (dapur).

Berbicara soal dapur, tentu tidak lepas dari makanan. Selain foto-foto di sosial media, Loloh Cemcem (nama minuman khas Penglipuran) yang dijual hingga ke daerah Denpasar membuat saya semakin penasaran dengan desa Penglipuran. Warnanya yang hijau gelap (seperti cincau) dan memiliki bau yang kurang sedap membuat beberapa orang tidak mau mencicipi minuman kesehatan ini.

Loloh Cemcem, khas Penglipuran
Loloh Cemcem, khas Penglipuran

Saya yang menyukai semua makanan (kecuali makanan hewani) tentu menyambut baik kehadiran Loloh Cemcem di kulkas warga setempat. Setelah membuka kulkas ternyata tidak hanya Loloh Cemcem yang menjadi minuman khas Penglipuran. Mereka juga memiliki Loloh Teleng yang terbuat dari ekstrak Bunga Teleng. Jika Loloh Cemcem memiliki rasa yang sedikit asam, Loloh Teleng memiliki rasa yang sedikit manis. Entah rasa manis ini murni dari ekstrak bunga atau ditambah gula, yang pasti ada beberapa semut yang sempat mengerubungi botol Loloh Teleng saya. Daripada penasaran, cobalah sendiri Loloh Cemcem dan Loloh Teleng khas Desa Penglipuran 😉

Loloh Teleng and its flower
Loloh Teleng and its flower

Oh iya, jika Anda ke Bali pernahkah memperhatikan ada batang bambu yang diletakkan di depan rumah dan dihias seindah mungkin? Itulah Penjor. Menurut saya Desa Penglipuran akan lebih indah dikunjungi maksimal 7 hari setelah hari raya Galungan. Saat merayakan Galungan, warga Bali akan memasang Penjor di depan rumahnya. Bali yang terlihat unik dengan desain bangunannya akan terasa makin unik dengan kehadiran Penjor. Penasaran dengan bagaimana filosofi dan cara pembuatan Penjor? Klik saja link ini

Selamat melaksanakan ibadah liburan di Bali.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jalan-jalan dan sukses untuk kita semua.

Wajib Dibaca Juga

1 Comment

  1. […] ketika sedang merayakan hari raya Galungan. Jika berencana untuk mengunjungi Bali saat Galungan, Desa Penglipuran harus menjadi salah satu destinasi wisata […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *