Coban Talun – Slowspeed Air Terjun Termudah

Coban Talun - Slowspeed Air Terjun
Coban Talun – Slowspeed Air Terjun

Coban Talun bukanlah tempat wisata baru di wilayah Malang Raya. Saya yang baru tinggal di Kota Malang sejak tahun 2009 sudah mengenalnya sebagai salah satu tempat untuk berkemah sekaligus berkunjung ke air terjun. Setelah sekian lama tidak berkunjung, kini Coban Talun berbenah penampilan sehingga tampak makin cantik. Apa saja keindahan yang ada disana?

Untuk berkunjung ke Coban Talun harus kita lewati jalan setapak sepanjang 1km dari lahan parkir mobil. Di sekitar lahan parkir dapat ditemui banyak warung yang menjual gorengan, mie instan, bakso, minuman hangat, dan makanan lainnya. Jalan sebentar menuju ke air terjun, mulai terasa keheningan hutan di sebelah aliran sungai. Hanya terlihat beberapa wisatawan yang berkemah di dekat hutan pinus. Toilet umum yang dibangun permanen oleh pihak pengelola sangat memudahkan peserta kemah. Tidak heran jika kondisi bumi perkemahan di Coban Talun cukup bersih meski hampir setiap hari digunakan untuk berkemah oleh wisatawan.

Hutan Pinus Coban Talun
Hutan Pinus Coban Talun

Suara daun pinus yang bergesekan satu sama lain karena angin ditambah sejuknya suara air sungai yang mengalir menemani perjalanan saya menuju ke air terjun. Awalnya akan kita lewati jalan tanah setapak yang melewati hutan pinus. Perbedaan elevasi yang tidak terlalu tinggi membuat jalan setapak di dalam hutan pinus terbilang landai. Meskipun berjudul ‘hutan’, ternyata kondisinya cukup bersih lho. Ada beberapa kursi kayu yang dibangun sebagai tempat duduk. Tidak lupa pula di sebelahnya disediakan semacam titik untuk mengumpulkan sampah. Meski kurang tepat, paling tidak sudah ada usaha untuk menjaga kebersihan hutan ini.

Jalur Bukit Coban Talun
Jalur Bukit Coban Talun

Sekitar 10 menit dari lahan parkir mobil, jalur menuju ke air terjun semakin menantang. Punggungan bukit dengan kemiringan yang cukup curam dimodifikasi agar lebih aman untuk dilewati wisatawan. Anak tangga dibuat di beberapa titik yang curam agar wisatawan tidak tergelincir saat naik / turun bukit. Beberapa kali sempat terlihat kursi kayu yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat.

Oh iya, meski terlihat menantang – ternyata tidak sedikit anak-anak berumur sekitar 8 tahun yang berkunjung ke Coban Talun. Jalan kaki hanya 30 menit dari lahan parkir mobil, jalur yang aman, dan relatif tidak menyiksa membuktikan bahwa Coban Talun adalah salah satu destinasi wisata yang aman untuk dikunjungi oleh keluarga. Soal kenyamanan saat berada di Coban Talun, jangan khawatir karena ada warung yang didirikan di area wisata air terjun. Anda dapat membeli minuman / makanan bagi anak Anda yang kelaparan / kehausan. Selain itu, warung ini juga dapat digunakan sebagai tempat berteduh ketika hujan turun.

Coban Talun in Panorama Mode
Coban Talun in Panorama Mode

Saya yang berkunjung ke Coban Talun bersama Made Devy Deria sudah pasti memiliki agenda utama hunting foto. Karena air terjun adalah objek utama kami, teknik slowspeed photography menjadi pilihan yang terbaik. Untuk tiba di lokasi ini (foto di bawah), kami harus turuni bukit setinggi 10 meter. Jalur yang kami lewati tidak susah meski kondisinya sudah mulai tersembunyi karena sangat jarang dilewati oleh wisatawan. Ada pula sesi memanjat batu sungai yang kondisinya berundak-undak. Dengan sedikit perjuangan, tibalah kami di titik yang paling dekat dengan aliran sungai.

Meski kondisinya tidak terlalu bersih, kami beruntung karena sampah tidak memenuhi aliran sungai yang menjadi foreground. Aliran sungai yang tidak terlalu deras dan juga tidak terlalu lambat sangat pas untuk diabadikan dengan teknik slowspeed meski tanpa menggunakan ND filter. Jika ingin mengabadikan foto slowspeed di Coban Talun, tripod wajib Anda gunakan karena tidak ada batu / kayu yang dapat digunakan sebagai penggantinya.

Behind the Frame Coban Talun
Behind the Frame Coban Talun

Dengan menaiki batuan yang besarnya hampir seukuran mobil, rekan saya (Devy) berhasil mengabadikan momen indah ini. Sungguh, dia menang banyak hari itu karena saya tidak sempat untuk mengambil foto dari spot yang sama.

Me and Coban Talun
Me and Coban Talun

Langit yang menjadi gelap dan udara yang semakin lembab mengharuskan kami untuk segera berteduh di warung sambil menunggu hujan reda. Saat menikmati teh hangat, muncul ide untuk memotret air hujan yang kami tampung di tangan. Daaaan, terciptalah foto ini diantara puluhan momen yang saya abadikan di kamera.

Hands in Frame di Coban Talun
Hands in Frame di Coban Talun

Dalam momen ini saya juga membuat vlog yang bercerita tentang perjalanan kami berkunjung ke Coban Talun. Penasaran? Cekidot gan!

Punya uneg-uneg atau pertanyaan? Komen aja di bawah jess!

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jalan-jalan dan sukses untuk kita semua.

Wajib Dibaca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *