Hunting Foto Bareng dan Etikanya (Opini)

Suasana Hunting Foto Bareng
Suasana Hunting Foto Bareng

Hunting foto bareng adalah salah satu agenda yang paling ditunggu penggiat hobi fotografi. Bagi yang pernah mengikuti kegiatan ini pasti tidak canggung lagi untuk berkreasi. Bisa jadi dia datang tidak sendiri, karena banyak juga rekan se-komunitasnya yang diajak hadir.

Namanya juga hunting foto bareng, sudah pasti belasan bahkan puluhan penggiat hobi fotografi akan berkumpul untuk mengabadikan satu / beberapa subjek / objek foto yang sama. Secara otomatis kreativitas para penggiat hobi fotografi ini akan keluar maksimal. Ada yang berdiri, duduk, jongkok, dan bahkan berbaring untuk mendapatkan sudut pemotretan yang mereka inginkan. Tidak jarang pula ada yang sampai memanjat pilar, tembok, dan sejenisnya untuk mendapatkan sudut pemotretan yang unik dibanding yang lain. Saya pernah melakukannya lho. Ceritanya pada Maret 2015 lalu saya memanjat pilar untuk memotret Pak Arbain Rambey yang saat itu sedang memberi arahan untuk memotret gajah di Taman Safari Indonesia. Hasilnya? Ya beda dengan yang memotret dari bawah. Urusan bagus atau tidak, belakangan. Hehehe

Naik Pilar untuk Dapatkan Bird Eye View (http://getlostback.blogspot.co.id/)
Naik Pilar untuk Dapatkan Bird Eye View (http://getlostback.blogspot.co.id/)

Agenda hunting foto bareng menurut saya bisa dibagi menjadi 2. Pertama adalah agenda hunting foto yang diacarakan oleh komunitas kita sendiri. Anggotanya tentu adalah internal komunitas. Biasanya acara terasa lebih hangat karena setiap peserta hunting saling mengenal. Yang jago melawak pasti akan berusaha untuk membuat peserta lainnya tertawa. Sedangkan yang ‘bully-able’ sudah tentu jadi sasaran bully hingga acara selesai, bahkan akan berlanjut di sosial media / grup mengobrol komunitas ini hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.

Nah, aura terasa berbeda ketika acara hunting foto dilaksanakan oleh event organizer atau komunitas lain yang membuat acara hunting foto terbuka untuk umum. Jika komunitas lain yang mengadakan acara hunting foto bareng, akan ada beberapa anggota komunitas tersebut yang berusaha untuk hangat kepada semua peserta. Mereka akan melayani semua peserta sehingga tidak ada yang kapok untuk mengikuti acara komunitas ini lagi. 

Hunting foto yang dilaksanakan oleh event organizer pun begitu. Namun mungkin karena panitia fokus pada jalannya acara (timeline, model, properti, dll), acara akan terasa lebih dingin dibanding agenda hunting foto bareng yang dilaksanakan oleh komunitas. Suasana menjadi lebih dingin ketika acara hunting foto ini dilombakan. Semua peserta akan berebut untuk mendapatkan spot terbaik, sudut terbaik, model terbaik, pokoknya semua-semua yang terbaik. Hehehe. Bahkan saking panasnya aura kompetisi, mereka lupa untuk mengutamakan etika.

Eh iya, apa ada etika saat hunting foto bareng? Saya ada beberapa opini yang mungkin bisa kita sepakati bersama. Jika ada yang kurang tepat bisa kita koreksi bersama. Nah, inilah etika hunting foto bareng yang muncul di pikiran saya.

  1. Tidak melewati batas area fotografer
    Tentu ada batas wilayah fotografer yang dibuat oleh pihak penyelenggara acara. Hal ini dimaksudkan agar semua peserta mendapatkan kesetaraan. Tidak ada yang mendominasi termasuk fotografer yang sudah pro sekalipun. Jika ingin melewati batas, lihatlah dulu peserta lainnya – apa ada yang masih memotret. Jika tidak ada / hanya sedikit, mintalah ijin pada mereka yang masih membidik kameranya. Tapi ingat, ijin yang mereka berikan bukan untuk waktu yang tak terbatas ya. Kalau sudah selesai, segeralah kembali ke batas area fotografer yang telah disepakati.
  2. Batas alat juga harus diperhatikan
    Inilah yang ingin saya komentari dari acara hunting foto bareng yang saya ikuti beberapa hari lalu. Yang memegang kamera memang benar berada di area fotografer. Tapi alatnya ada di belakang model. Itupun diletakkan sembarangan dalam waktu yang sangat lama (pula), seakan hanya dia yang sedang memotret. Alhasil, banyak sekali foto yang bocor dengan alatnya. Kalau agenda ini dilombakan, tentu akan mengurangi nilai estetika foto. Sangat disayangkan sekali jika Anda masih melupakan batas wilayah dan etika meletakkan alat fotografi.
  3. Ganti posisi dengan fotografer lain
    Sangat mustahil jika hanya ada 1 titik yang dapat digunakan untuk mengabadikan 1 subjek / objek foto. Untuk mendapatkan titik dan sudut terbaik dalam mengabadikan sebuah momen adalah perjuangan. Tentu bukan hanya Anda yang berpikir bahwa titik dan sudut tertentu adalah yang terbaik saat itu. Bijaklah dalam mengabadikan momen. Bila sudah selesai untuk mengabadikan momen dari titik tertentu, segeralah berpindah dan persilakan peserta lain untuk menggunakan posisi Anda sebelumnya. Jika Anda kreatif, di titik dan sudut yang sama pun akan menghasilkan foto yang berbeda. Percayalah dan jangan takut disaingi hanya karena titik dan sudut pengambilan gambar yang sama.
  4. Ganti subjek / objek foto
    Biasanya penyelenggara acara akan menyediakan lebih dari 1 subjek (model) dan latar belakang. Sudah umum jika mereka juga membuat peserta untuk bergantian mengabadikan model. Namun banyak saya temui peserta yang hanya nempel dengan 1 model dan latar belakang tertentu. Saran saya, jika ingin mengabadikan 1 model saja – buatlah acara privat dan jadikan model tersebut sebagai model Anda satu-satunya (dan bahkan duet fotografer – model). Dengan begini, tidak ada model yang tersinggung karena perbedaan jumlah peserta yang memotretnya. Selain itu, job mereka pun juga bertambah. Anda dapat foto terbaik (karena privat), mereka juga dapat job tambahan kan? Klop!
  5. Kenalan & ngobrol dengan fotografer lain
    Jika agenda hunting foto membuat Anda tidak bisa ngobrol dengan fotografer lain, jangan pernah ikuti lagi acara serupa! Pengecualian bagi hunting foto underwater ya. Karena bagaimana caranya untuk ngobrol di bawah air? Hehehe. Justru harusnya Anda bisa menambah kenalan baru lewat agenda hunting foto bareng. Siapa tahu kenalan Anda bisa menjadi partner. Kalaupun harus menjadi saingan, tidak masalah. Anda juga bisa saling buka-bukaan soal biaya jasa memotret. Siapa tahu Anda membuka harga terlalu mahal untuk kualitas yang sama dengan yang dihasilkannya, boleh lah turunkan sedikit agar lebih bersaing. Hehehe. Yang penting pulang dari agenda hunting foto bareng harus nambah teman baru, idola baru, dan pastinya follower baru.
  6. Bertanyalah pada yang lebih ahli
    Sudah tentu akan ada fotografer yang lebih senior, lebih jago, lebih banyak prestasi, dll yang hadir dalam acara tersebut. Jika Anda tidak bisa mencuri ilmu darinya, RUGI !! Jika ingin jadi lebih mahir tapi tidak tahu bagaimana memulainya, gunakan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Maksudnya AMATI bagaimana beliau memotret. Jika perlu, tanyalah bagaimana pengaturan kamera yang tepat untuk cara tersebut. TIRU-lah sebaik mungkin sehingga kualitasnya mendekati hasil milik beliau. Dan ingatlah, karena fotografi adalah dunia kreatif – MODIFIKASI agar karya Anda menjadi orisinil dan dinilai kreatif.

Fiuh, syukurlah Anda masih mau membaca opini saya hingga baris paragraf terakhir. Karena kopi Mandhelling Wine saya sudah habis, sudah waktunya pamit untuk nyeduh kopi lagi. Jika ada opini saya yang ingin dikoreksi atau ditambah agar lebih lengkap, silakan berkomentar di bawah. Ayo bersama-sama kita bikin acara hunting foto bareng jadi lebih asyik!

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jepret dan sukses untuk kita semua.

Wajib Dibaca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *