Perang Pandan Ala Desa Tenganan Pegringsingan

Perang Pandan

Tidak heran jika Bali dikunjungi oleh banyak wisatawan. Selain wisata alam, wisata budaya juga menjadi magnet para wisatawan untuk datang ke Bali. Salah satu warisan budaya Bali yang kemarin bisa saya nikmati adalah Mekare-kare yang dilaksanakan di Desa Tenganan Pegringsingan (Kab. Karangasem).

Nyoman Suwarni

Kesan pertama saya ketika datang ke Desa Tenganan Pegringsingan adalah kuno. Saya seakan masuk ke mesin waktu yang diseting ke tahun 1980an dan berkunjung ke sebuah desa di Bali. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya tembok bata tanpa dilapisi semen yang beberapa bagiannya sudah berlumut. Kesan kuno semakin diperkuat dengan pakaian adat khas warga Tenganan yang sangat sederhana, tidak seperti pakaian adat Bali yang sudah modern dan bahkan ‘go international‘. Menurut saya, Desa Tenganan sungguh sangat layak disebut sebagai destinasi wisata kampung adat Bali.

Selain dalam mempertahankan predikat sebagai destinasi kampung adat di Bali, aksi warga desa Tenganan dalam mempertahankan kebudayaan mereka juga patut untuk diacungi jempol. Mekare-kare yang awalnya hanyalah sebuah ritual adat tahunan, kini menjadi destinasi wisata budaya yang tidak boleh dilewatkan wisatawan ketika berkunjung ke Bali.

Upacara Sebelum Perang Pandan

Mekare-kare / Perang Pandan dilaksanakan sebagai wujud terima kasih kepada Dewa Indra yang dulu pernah mengalahkan seorang raja jahat yang pernah menguasai Tenganan. Selain itu, warga Desa Tenganan melaksanakan Perang Pandan karena mereka memuja Dewa Indra (dewa perang) sebagai manifestasi Tuhan. Jadilah Mekare-kare sebagai ritual adat yang harus dilaksanakan oleh warga Desa Tenganan setiap tahun.




Ritual Mekare-kare diawali dengan arak-arakan berkeliling desa sambil membawa beberapa pusaka. Tujuan pertama adalah Pura yang berada di ujung desa. Dari Pura, para pembawa pusaka berjalan menuju ke beberapa bangunan ‘Bale’ yang terletak di bagian bawah desa. Para pembawa pusaka berhenti di setiap ‘Bale’ selama beberapa saat untuk mempersembahkan tarian sakral. Dari yang saya amati, sepertinya para penari sudah kerasukan sehingga matanya selalu menutup baik saat berjalan maupun menari. Ada pula yang kerasukan sambil menusuk dan menggores keris tajam di tubuhnya. Sungguh ajaib karena tidak ada satupun luka yang terlihat.

Ritual Sebelum Mekare Kare

Setelah ritual mengelilingi desa selesai, para petarung mulai berkumpul di Bale. Terlihat anak-anak hingga seumuran kakek-kakek menggunakan kain yang menutup hanya bagian bawah tubuh. Setiap dari mereka membawa lembaran daun pisang yang telah dibentuk menyerupai mangkuk. Ternyata mangkuk daun pisang ini digunakan untuk menampung tuak yang diberikan oleh seseorang kemudian dibagikan secara estafet kepada peserta lainnya untuk kemudian dikumpulkan kembali ke seseorang. Orang terakhir yang menerima kemudian membuang tuak ke bawah panggung. Entah apa artinya, yang jelas ritual ini sangatlah mengundang tanda tanya di kepala saya, “Apa arti membagi dan membuang tuak dalam Mekare-kare”?

Berbagi Tuak

Masuklah ke peperangan yang sebenarnya, disaat para petarung memegang kumpulan daun pandan dan juga tameng. Seperti pertandingan tinju yang mengenal kelas / kategori, begitu juga dengan Mekare-kare. Tidak ada jadwal dan list siapa melawan siapa. Yang ada saat itu adalah petarung yang siap vs petarung lainnya yang juga telah siap. Jika lawan tidak seimbang, maka akan dicarikan petarung lawan yang seimbang. Petarung yang tidak sedang bertarung duduk mengelilingi panggung tempat pertarungan dilaksanakan. Kehadiran mereka juga bertugas untuk menjaga yang bertarung agar tidak terjatuh dari panggung.

Saling Menyerang dan Bertahan

Pertarungan yang masing-masing hanya berlangsung sekitar 1 – 2 menit sesekali terlihat sengit. Pertarungan hanya boleh sebatas menyerang menggunakan daun pandan berduri dan juga bertahan menggunakan tameng rajutan daun pandan. Tidak ada tendangan dan juga pukulan kepada lawan. Punggung lawan merupakan bagian tubuh yang paling dicari untuk diserang. Namun jika ada kelemahan pertahanan pada bagian leher lawan, sudah pasti menjadi sasaran empuk untuk diserang.

Saling Menyerang Punggung

Pertarungan menjadi semakin sengit jika peserta larut dalam aura perang. Tidak jarang mereka bertarung hingga terjatuh namun masih tetap menggesekkan daun pandan berduri ke bagian tubuh lawan. Petarung lain yang tidak sedang bertarung akan melerai mereka berdua jika durasi sudah habis atau salah satu lawan terlihat tidak berdaya.

Perang Hingga Jatuh

Selain warga desa Tenganan, Mekare – kare juga terbuka untuk umum. Pria dari manapun berhak untuk terlibat dalam ritual ini asalkan mau menanggalkan pakaian bagian atasnya dan juga mengenakan kain untuk menutup tubuh bagian bawah. Kehadiran mereka justru membuat durasi Mekare – kare menjadi lebih lama. Ini adalah keuntungan bagi wisatawan yang datang terlambat untuk menyaksikan Perang Pandan.

Warga Luar Tenganan Boleh Ikut

Mekare-kare tidak hanya diikuti oleh pria, wanita di Desa Tenganan juga terlibat tapi dengan tugas tidak sebagai petarung. Para wanita (daha) yang belum menikah duduk di bale sambil menyaksikan pertarungan. Mereka menggunakan pakaian khas Tenganan untuk wanita yang belum menikah. Sesekali mereka berteriak jika pria idaman mereka bertarung atau ketika pertarungan terlihat sangat sengit. Sumpah, cewek Tenganan cantik sekali ketika mengenakan pakaian khas mereka!! <3

Para Daha di Tenganan

Ritual ditutup dengan kembali membagikan tuak di atas mangkuk daun pisang dan membagikannya hingga ke orang terakhir untuk kemudian dibuang di bawah panggung. Luka gores adalah akibat mutlak yang harus diterima oleh petarung. Dalam ritual Mekare-kare tidak ada pihak yang menang dan juga pihak yang kalah. Semua duduk bersama, makan, selfie, dan bahkan saling mengusap obat tradisional ke luka gores para petarung lainnya. Tidak ada dendam yang timbul baik saat bertarung maupun setelahnya. Bagaimana ada dendam, wong saat bertarung saja mereka bisa sambil senyum dan bahkan tertawa? Hmmm sangat kontras dengan namanya yang bergelar ‘Perang’.

Obat Diusap ke Luka




Saatnya berbagi tips ketika berkunjung ke Desa Tenganan atau Perang Pandan:

  1. Sebisa mungkin gunakan kain untuk menutup tubuh bagian bawah dan juga pakaian yang tidak tipis / terbuka untuk tubuh bagian atas.
  2. Masuklah ke dalam rumah warga, terutama yang menjual kain tenun lokal. Kamu akan kaget betapa ramahnya mereka menyambutmu dan menjawab pertanyaan tentang Desa Tenganan.
  3. Jika ingin melihat proses pembuatan kain tenun khas Desa Tenganan, jangan datang pada saat pelaksanaan upacara (apalagi saat Mekare – kare). Warga Desa Tenganan sangat mengutamakan pelaksanaan ritual.
  4. Membawa tangga pada pelaksanaan Perang Pandan adalah ide yang bagus. Tangga dapat membuat sudut pengambilan gambar Anda menjadi lebih tinggi mengingat banyak fotografer yang berebut spot saat memotret Perang Pandan.
  5. Bawalah lapisan pelindung kamera & lensa dari air hujan. Acara tidak akan dihentikan meski hujan. Saya mendapatkan beberapa momen ketika hujan menjadi semakin deras dan saya rasa membuat momen menjadi lebih dramatis.
  6. Lensa apapun bisa digunakan untuk memotret Perang Pandan. Flash sepertinya tidak dibutuhkan karena acara dilaksanakan pada siang – sore hari.
  7. Lokasi parkir mobil Desa Tenganan Pegringsingan saya share pada peta di bawah. Lokasi parkir motor berada di sekitarnya.

Penasaran dengan momen Mekare-kare yang tidak saya tampilkan di blog ini? Foto Mekare – kare dan juga suasana Desa Tenganan Pegringsingan bisa dilihat di album :

Perang Pandan - Mekare Kare

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jalan-jalan dan sukses untuk kita semua.

Wajib Dibaca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *