SUBSCRIBE to our newsletter

Sabangku Sayang, Abang Datang

Masjid Baiturrahman Aceh

Alangkah bahagia ketika saya mendapat pekerjaan yang menjadikan provinsi DI Aceh sebagai salah satu lokasi pekerjaan. Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 2,5 jam dari Bandara Sukarno Hatta (Jakarta), tibalah saya di bandara Sultan Iskandar Muda (Aceh).

Sebenarnya lokasi utama pekerjaan kali ini bukan berada di kota Banda Aceh, melainkan di Kota Sabang yang berada di Pulau Weh. Untuk mencapainya, kita bisa menggunakan kapal ferry yang membutuhkan 2 jam atau kapal cepat yang hanya 45 menit dari Pelabuhan Ulee Lheue. Karena tidak membawa kendaraan, saya memilih untuk menggunakan kapal cepat yang berlabuh di Pelabuhan Balohan.
Harga tiket termurah untuk menyeberang ke Pulau Weh adalah Rp 80.000 untuk kelas bisnis. Sedangkan untuk menggunakan kelas VIP, kita hanya perlu menambah Rp 20.000 sehingga dapat duduk di ruang ber-AC yang saat itu tidak terisi penuh oleh penumpang. Meski tidak ada ruang bagasi, tas koper dapat diletakkan di ruang kosong yang berada di barisan paling depan kursi VIP. Jika Anda suka merokok, tentu memilih kursi VIP bukan pilihan yang tepat karena ruangan ini tertutup rapat kecuali pada pintunya yang selalu terbuka.

Sampai di Sabang
Tiba di Pelabuhan Balohan saya disambut oleh tim yang telah berangkat sebelumnya ke Sabang. Sepanjang perjalanan darat dari Pelabuhan Balohan ke lokasi Sail Sabang sesekali dapat saya lihat pemandangan laut dari atas bukit. Jalanan aspal yang mulus membuat saya kagum dengan Pulau Weh meski lokasinya berada di pulau terujung dan terluar Indonesia.

Tugu I Love Sabang

Pengendara motor dan mobil yang tertib membuat saya tenang untuk jalan kaki berkeliling Kota Sabang. Langit mendung membuat saya semakin betah untuk jalan kaki sekitar 2km sore itu. Saat sedang jalan-jalan berkeliling kota juga saya sempatkan untuk berkunjung ke toko setempat. Ada pertanyaan yang mengganjal, bagaimana bisa harga barang di pulau terluar ini hampir sama dengan harga ketika dijual di Kota Malang? Apapun caranya, saya salut dengan sistem perekonomian yang tetap menjaga kestabilan harga barang di Kota Sabang.
Saat itu di Pelabuhan CT-3 (Container Terminal 3) ada sebuah kapal pesiar yang sedang berlabuh. Kapal yang berkapasitas sekitar 1800 penumpang ini hanya berlabuh sekitar 12 jam. Karena melihat beberapa wisatawan yang memotret dari bangunan tinggi, saya penasaran ingin tahu bagaimana hasilnya ketika memotret disana.

Setelah jalan kaki sekitar 10 menit dari Hotel Citra, saya tiba di bangunan panggung kayu yang terletak di seberang Kantor Walikota Sabang. Dari sini saya bisa melihat dan memotret pemandangan Teluk Sabang secara luas tanpa terhalang bangunan atau pohon.

Panggung Kayu di Sabang

Sebenarnya tidak hanya pemandangan Teluk Sabang dari perbukitan yang membuat saya takjub. Dalam perjalanan mencapai bangunan panggung kayu saya melihat beberapa bangunan lama yang digunakan sebagai markas militer atau kantor pemerintahan. Ada juga Bunker Jepang yang dihubungkan oleh tangga ke bawah tanah hingga tak nampak ujungnya. Ternyata di sekitarnya dulu merupakan pusat komando militer Belanda dan atau Jepang dalam usahanya untuk menduduki Indonesia. Terbukti dengan adanya papan beton memuat informasi sejarah dari setiap bangunan tua yang saya temui. Salut dengan usaha pemerintah Kota Sabang yang menjaga bangunan tua serta mempublikasikan sejarahnya.

Malam di Pulau Weh
Langit mulai gelap dan aktivitas mulai sedikit santai. Agenda jalan kaki berkeliling kota yang menguras tenaga menjadi agenda santai untuk berkumpul dan menikmati tenangnya Pulau Weh. Mobil sewaan membawa kami ke RM Kencana yang kata Bang David (driver) menyajikan menu dengan rasa terbaik se-wilayah Kota Sabang. Di RM Kencana kami nikmati menu makan malam dengan model prasmanan.




Sajian lauk yang cukup banyak membuat saya agak bingung dalam memilih. Beberapa kawan yang menemani saya makan malam di RM Kencana menjagokan menu rendang. Bumbu rendang yang lezat membanjiri potongan daging yang mereka makan bersama nasi hangat. Memang daging rendang biasa kita temui di restoran Padang dimanapun berada. Namun rendang yang disajikan di RM Kencana konon kabarnya menggunakan ‘hollyweed’ sebagai campuran penyedapnya. Entah benar atau tidak, yang jelas apapun bumbu rahasianya tetap saja kami sepakat bahwa “Rendang di RM Kencana Kota Sabang SEDAP!!!”
Pengunjung yang belum memesan tempat dipersilakan mengambil sendiri menu makan mereka. Namun bagi yang telah memesan meja, menu ala table buffet disajikan di beberapa piring kecil dan memenuhi meja makan. Tidak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara juga banyak yang berkunjung ke Kota Sabang. Terlebih pada akhir November – awal Desember 2017 ini ada event Sail Sabang yang menyedot cukup banyak wisatawan untuk berkunjung.

Lanjut Nongkrong
Perut saya sudah kenyang setelah menyantap sepiring nasi goreng dan juga tumis sayuran ala RM Kencana. Ajakan untuk nongkrong dan menikmati suasana malam di Kota Sabang tidak dapat ditolak. Kesempatan untuk mengetahui gaya hidup orang Sabang bisa saya dapatkan disini.

De Sagoe Sabang

Kopi tentu menjadi sajian yang wajib ada di sebuah tempat nongkrong. Di De Sagoe Kuphie saya nikmati menu andalannya yakni Kopi Sanger (dibaca Sangeh dengan bunyi e seperti pada telur). Saya berkesempatan untuk melihat dan memotret bagaimana cara membuat Kopi Sanger. Pertama si Abang Barista memasukkan kopi bubuk ke dalam saringan. Cangkir seukuran 200ml digunakan untuk mengukur banyaknya kopi yang akan diseduh. Dalam pengamatan saya ada sekitar 4 cangkir yang artinya sekitar 800ml bubuk kopi yang diseduh dalam sekali kesempatan. Sambil menunggu seduhan kopi matang, si Abang menuangkan susu kental manis ke dalam gelas yang berukuran sekitar 300ml. Saringan yang berisi bubuk kopi dialiri air mendidih dari cawan besar sehingga air kopi jatuh dan memenuhi cawan lain. Hal ini diulang terus hingga kopi dirasa telah larut dengan baik bersama air mendidih.

Membuat Kopi Sanger

Saya sempat bertanya, sampai berapa kali penyeduhan ini berlangsug dan si Abang menjawab “sampai kopi encer”. Rasa penasaran saya muncul soal bagaimana rasa kopi hitam yang digunakan untuk Kopi Sanger. Setelah memesan segelas kopi saring (kopi hitam yang disaring), ternyata kekentalannya masih relatif encer sehingga membuat rasa kopi tidak terlalu pekat. Tidak heran jika rasa susu mendominasi Kopi Sanger. Anda penyuka kopi atau aktivitas nongkrong? Wajib mencicipi Kopi Sanger saat berkunjung ke Kota Sabang.

Malam Berganti Pagi
Karena penasaran dengan kondisi Kota Sabang pada pagi hari, saya dan Thomas (penulis di Good News From Indonesia) memulai petualangan jalan pagi sekitar pukul 06.30 waktu setempat. Kondisi langit saat itu masih belum terang. Jika dibandingkan, mungkin kondisi ini mirip dengan kondisi sekitar jam 5 pagi di Surabaya / Malang.
Tidak banyak yang spesial pada pagi hari karena masyarakat masih banyak berada di dalam rumah untuk bersiap melakukan aktivitas. Saat berjalan di daerah sekitar pelabuhan CT-3 yang agak sepi, saya merasa hidup seperti pada tahun 90-an. Konstruksi bangunan rumah menjadi perhatian saya. Banyak bangunan rumah di tepi pantai yang masih terbuat dari kayu dan beratap seng. Adapun bangunan yang terbuat dari tembok permanen adalah ruko atau kantor pemerintahan dan militer.

Perkampungan di Sabang

Jalan aspal yang saya lalui cukup unik karena juga terhubung dengan gang-gang selebar 1 meter di tengah perkampungan. Paving blok dan juga beton yang sedikit licin menjadi penunjuk arah saya ketika berjalan mengamati perkampungan sekitar. Kontur perbukitan membuat banyak rumah di perkampungan berdiri tidak sama tinggi dengan rumah tetangganya. Meski memasuki jalanan di gang yang semakin ke ujung terlihat tidak terawat, ternyata tembus juga ke jalan utama. Oh saya baru ngeh ternyata jalanan di gang ini selain akses untuk warga juga bisa untuk sebagai shortcut yang menghubungkan jalan utama.

Destinasi Wisata di Pulau Weh

Bagi yang memperhatikan pelajaran geografi (saat sekolah) pasti masih mengingat bahwa Pulau Weh merupakan ujung utara dan barat NKRI. Karena lokasinya ini dibuatlah Tugu 0 Kilometer. Tugu ini sangat populer di kalangan traveller. Tidak lengkap rasanya jika berkeliling Indonesia tanpa pernah menjejakkan kaki di Tugu 0 Kilometer. Tugu ini pula yang mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Sabang.

Tugu 0 kilometer
Jika Anda ingin berkunjung ke Tugu 0 Kilometer, disarankan pada sore hari karena juga dapat menikmati momen matahari terbenam yang indah disini. Sayang sekali kondisi langit sedang mendung saat saya berkunjung sehingga tidak mendapatkan momen matahari terbenam di Tugu 0 Kilometer.

Oh iya, sebenarnya Kota Sabang juga memiliki destinasi wisata bawah laut yang cantik. Di Pulau Rubiah kita bisa diving dan snorkling. Lokasinya tidak jauh dari Tugu 0 Kilometer. Jika membutuhkan info lebih lengkap tentang snorkling dan diving di Pulau Rubiah, bisa dibaca di “<link menyusul>“.

Pulau Rubiah

Internet di Pulau Weh
Jalan-jalan berkeliling Pulau Weh tentu tidak lengkap jika tidak diunggah ke sosial media. Sejauh yang saya amati, provider Telkomsel merajai pulau. Ada juga kawan yang menggunakan XL dapat menerima koneksi 4G. Sayang Indosat kurang ‘jreng’ di Pulau Weh. Jika Anda penikmat internet ngebut, wifi.id keluaran Telkom tersedia di dekat pelabuhan CT-1. Lokasinya yang berada beberapa titik di Kota Sabang semakin memudahkan kita untuk menjelajahi dunia maya dengan koneksi internet super cepat.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jalan-jalan dan sukses untuk kita semua.

Share Post :

More Posts

Leave a Reply