Rahasia Peningkatan Kunjungan Wisatawan ke Banyuwangi

 

Nelayan di Pulau Santen Banyuwangi
Nelayan di Pulau Santen Banyuwangi

Banyuwangi? Apa yang Anda pikirkan tentang Banyuwangi sekitar 5 – 10 tahun yang lalu? Ada yang bilang Banyuwangi adalah Kota Kencing. Mengapa?

Ada yang menyebut (ironi) Banyuwangi sebagai Kota Kencing karena pada 10 tahun yang lalu hingga sebelumnya – Banyuwangi hanyalah kota transit untuk wisatawan yang akan berkunjung ke Bali melalui perjalanan darat. Sepakat atau tidak, banyak dari mereka hanya meluangkan waktu untuk kencing di Pelabuhan Ketapang sebelum menyeberang Selat Bali dengan kapal ferry.

Semua pasti sepakat bahwa nama Banyuwangi sedang naik daun saat ini. Saya sempat berdecak kagum saat mampir ke Banyuwangi pada awal 2018 setelah kunjungan terakhir saya pada akhir 2016 lalu.

Dalam tulisan ini bukan keindahan destinasi wisata yang akan saya ulas. Dari pertemuan singkat dengan Plt Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda saya mendapat beberapa wawasan mengenai bagaimana strategi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Apa saja?

Pemerintah daerah adalah sebuah perusahaan
Pada dasarnya perusahaan adalah sebuah organisasi yang memiliki struktur dan tujuan. Begitu pula dengan pemerintahan yang merupakan sebuah organisasi. Semua anggota organisasi (dalam hal ini adalah pegawai di kantor pemerintahan) tergabung dan dibagi dalam beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang dipimpin oleh Bupati sebagai CEO / direktur utama.

Perbanyak project yang menarik minat wisata
Jika ada kesempatan untuk memilih, apakah Anda akan berkunjung ke suatu destinasi wisata saat mereka mengadakan festival atau saat tidak mengadakan festival? Saya memilih untuk berkunjung saat mereka mengadakan festival / ritual budaya atau acara lain yang sejenis. Di Banyuwangi, banyak event yang tidak semuanya merupakan ranah pariwisata tetapi di-rebrand oleh bantuan Dinas Pariwisata sehingga menjadi festival / pesta rakyat. Jadi wisatawan yang datang selain menikmati keindahan alam juga dapat lebih mengenal kehidupan sosial budaya di Banyuwangi. Kembali lagi ke pertanyaan tadi, mengapa wisatawan datang? Karena ada agenda wisata yang dilaksanakan disana. Sepakat?

Semua SKPD bekerja sama mencapai 1 tujuan
Realisasi kerjasama antar SKPD ditunjukkan dengan kesamaan visi tentang penggunaan Anggaran Pemerintah Daerah (APD). Karena banyak agenda wisata yang dilaksanakan di Banyuwangi, anggaran menjadi kendala utama untuk merealisasikannya. Sekitar 70 ageda pariwisata yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 merupakan ‘agenda patungan’ antar SKPD di Banyuwangi. Ada beberapa project milik SKPD selain Dinas Pariwisata yang dioptimalkan sehingga dapat menjadi agenda pariwisata tambahan. Tidak hanya itu, setiap SKPD ‘patungan’ untuk memprioritaskan penggunaan perlengkapan dan SDM yang telah dimiliki. Jadi ketika merencanakan dan mengeksekusi sebuah project, tidak semuanya harus disewa / dibeli dari vendor. Setiap SKPD pasti memiliki perlengkapan dan SDM (keahlian) yang dibutuhkan agar beberapa project bisa berjalan lancar dan mencapai target.
Contoh:
Dinas Pariwisata promosi via media sosial, Dinas Kebersihan menjaga kebersihan venue, Perangkat desa promosi ke warganya untuk berpartisipasi dalam project, Dinas Perindustrian dan Perdagangan menyediakan booth dan kelengkapannya, serta SKPD lain ikut pula membantu sesuai dengan kemampuannya.

Mengumpulkan dan mengarahkan para influencer
Selain rajin promosi wisata melalui akun official, Dinas Pariwisata juga mengumpulkan ratusan social media influencer setempat untuk menyatukan visi sehingga memiliki 1 tujuan besar untuk kemajuan daerahnya, bukan hanya untuk menambah follower / subscriber-nya masing-masing. Sekali lagi, menyatukan visi.

Mengoptimalkan Pokdarwis
Fakta yang perlu diketahui, Banyuwangi memiliki wilayah kabupaten terluas di Jawa Timur. Dari pusat pemerintahan bisa habiskan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai daerah terluarnya. Tentu hanya mengandalkan pegawai pemerintahan tidak akan membuahkan hasil yang optimal. Peran warga lokal melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) diperlukan untuk menjaga serta memanfaatkan potensi alam, sosial, dan budaya yang ada di sekitarnya. Kehadiran Pokdarwis di Banyuwangi juga terbukti banyak menelurkan inovasi. Jika bukan masyarakat di sekitar destinasi wisata, siapa lagi yang akan peduli? Toh mereka juga yang akan merasakan keuntungan ketika daerahnya menjadi destinasi wisata yang populer.

Pemerintah harus pandai ‘mengamen’
Bupati selaku CEO aktif ‘mengamen’ di ibukota sehingga hampir setiap saat kembali ke Banyuwangi selalu membawa investor. Tentu kehadiran investor sangat dibutuhkan sebagai solusi atas tidak bertemunya lobi politik apalagi saat keterbatasan APD menjadi kendala utama.

Pemerintah sebagai pelindung
Kehadiran investor di suatu daerah bisa diartikan sebagai pedang bermata dua. Jika mereka berniat untuk membangun daerah sebagai bentuk kepedulian, tentu sangat disambut baik. Namun apa jadinya bila investor yang datang adalah kaum kapitalis yang mengutamakan keuntungan dan mengesampingkan dampak negatif untuk lingkungan sekitar? Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir berusaha untuk melindungi eksistensi Pokdarwis. Investor yang datang diarahkan agar tercipta win-win solution dengan warga sekitar. Sebagai manfaat jangka panjang, pendapatan warga lokal tidak berkurang akibat kehadiran investor bermental kapitalis dan pendapatan investor juga tidak berkurang akibat persaingan ketat dengan investor lainnya.

Lalare Orchestra 2016
Lalare Orchestra 2016

Sejauh ini semakin tertarik untuk mempelajari strategi peningkatan pariwisata di Banyuwangi? Ingin langsung menerapkannya di wilayah Anda? Sudah sewajarnya dalam sebuah perubahan pasti ada saja batu sandungan. Ada beberapa saran yang disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, antara lain :

Revolusi Mental
Seluruh pejabat pemerintahan harus merubah pola pikir bahwa setiap SKPD adalah kolaborator, bukan kompetitor. Tidak ada saling lempar tanggung jawab ketika sebuah tujuan ingin dicapai. Contoh nyata yang telah terlaksana di Banyuwangi yakni, acara tahunan bersih sungai yang menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan di-rebrand oleh Dinas Pariwisata menjadi sejenis festival yang melibatkan lebih banyak peserta. Dinas Kebersihan yang mengeluarkan anggaran dibantu kegiatan promosinya oleh Dinas Pariwisata. Sebuah kegiatan bersih-bersih sungai yang awalnya hanya melibatkan petugas kebersihan diubah image-nya sehingga menjadi sebuah pesta rakyat. Masyarakat bisa berkumpul, wisatawan bisa menyaksikan kehidupan sosial budaya mereka, para pedagang kaki lima bisa berjualan,  dan tentu sungai menjadi bersih.

Revolusi Mental (lagi)
Timbul pertanyaan, lalu secara publikasi acara bagaimana? Menggunakan nama Dinas Kebersihan atau Dinas Pariwisata? Tidak keduanya. Mereka menggunakan nama “Pemerintah Kabupaten Banyuwangi” sebagai penyelenggara acara sehingga tidak ada yang akan dirugikan ketika namanya tidak dicatut pada materi publikasi. Namanya juga kerja, sudah pasti harus berorientasi pada hasil. Kerja yang benar bukan untuk mencari muka di depan atasan, kan?

Kerja Cerdas, Kerja Cepat, Orientasi Hasil
Semangat kerja tim di dalam tubuh Pemkab Banyuwangi juga dipengaruhi oleh kecepatan eksekusi. Semua urusan birokrasi yang membutuhkan waktu tidak singkat dipangkas menggunakan bantuan teknologi informasi. Grup chat menjadi media koordinasi utama antar kepala dinas dengan Sekda dan Bupati sedangkan surat resmi antar instansi menyusul segera sebagai  bentuk formalitas dan dasar hukum. Alhasil berbagai keperluan mendadak dapat diselesaikan dengan segera. Ini adalah solusi tepat mengingat warga lebih membutuhkan hasil kerja daripada secarik kertas berbubuh stempel. Sepakat?

Sudah gatal ingin meningkatkan kunjungan wisata ke daerah Anda? Share disini ya apa saja yang telah Anda lakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata dan bagaimana dampaknya.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam berbagi ilmu dan sukses untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan