Suasana Bali Sebelum Nyepi

Berkumpulnya umat Hindu yang merayakan rangkaian Nyepi menarik perhatian saya. Dalam tulisan ini saya akan berbagi beberapa momen yang saya dapatkan 3 hari sebelum pelaksanaan Nyepi tahun 2018. Cekidot jes!

Sudah menjadi tradisi turun temurun bahwa ada beberapa upacara yang harus dilaksanakan sebelum melakukan tapa brata Penyepian. Upacara Melasti yang dilaksanakan sekitar 3 – 4 hari sebelum Nyepi bertujuan untuk membersihkan diri dan juga benda sakral milik Pura. Umat Hindu di Bali maupun di seluruh penjuru Nusantara berbondong-bondong menuju air kehidupan yang disucikan. Jika dekat dengan laut, mereka akan pergi ke laut. Namun tidak sedikit pula umat yang menuju danau / sungai jika laut terletak cukup jauh dari mereka berada.

Jika berkunjung ke Bali saat mendekati hari Nyepi, jangan heran dengan jalanan macet yang mewarnai hari-hari Anda selama di Bali.  Itu terjadi tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di daerah pedesaan yang dalam sehari-hari sangat jarang memiliki kepadatan lalu lintas. Semua umat Hindu secara bersamaan (namun bergantian secara waktu dan tempat) turun ke jalan untuk beramai-ramai membawa benda sakral dari Pura menuju ke laut / danau / sungai terdekat. Tidak jarang hal ini membuat sebagian jalan harus ditutup / dialihkan.

Semua umat Hindu tumpah ruah menuju ke Pura, tempat dimana pemberangkatan Melasti secara berkelompok biasanya dimulai. Banyak yang berangkat dari rumah dengan jalan kaki membawa banten atau persembahan yang berupa buah, bunga, dan juga kue-kue. Tidak lupa baju baru juga ikut mewarnai datangnya hari besar yang dirayakan setahun sekali.

Tidak hanya kegiatan di sekitar Pura dan laut yang menarik perhatian saya. Para wanita yang setiap hari ‘maturan’ ke beberapa tempat sakral terlihat lebih cantik dan anggun dengan menggunakan pakaian adat. Kebaya yang menutupi tubuh bagian atas dan kain yang menutupi tubuh bagian bawah terbukti mampu meningkatkan pesona anggun wanita Nusantara.

Saya sangat bahagia ketika mampu mengabadikan beberapa momen di atas. Mereka sangat welcome dengan keberadaan juru foto di sekitarnya. Tidak sedikit yang melempar senyum dan sapa ramah saat mereka mendekati saya. Bahkan ada seorang ibu yang memarahi anaknya ketika ia take action saat saya sedang membidiknya. Alhasil, semua momen terekam dengan baik seperti apa adanya.

Ah, ingin rasanya saya iri dengan kawan-kawan fotografer sosial budaya yang hidup di Bali dan menghabiskan waktunya untuk mendokumentasikan setiap momen yang terjadi di Bali. Bagaimana dengan Anda? Kapan ingin datang ke Bali dan melihat langsung kehidupan sosial budaya masyarakat Bali? Yuk kita jaga dan lestarikan adat budaya Bali serta Nusantara.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jepret dan sukses untuk kita semua.

You may also like

Leave a Reply