[GALERI] Pesona Kebun Bunga Gumitir di Bali

Bali tidak hanya cantik berkat keindahan pantainya. Bagi yang pernah mengunjungi Bali hingga ke daerah utara mungkin sepakat jika terasering sawah juga memikat mata. Ada 1 hal lagi yang tidak kita sadari yakni keberadaan sawah bunga yang penuh warna.

Tidak seperti daerah di luar Bali yang menjadikan bunga hanya sebagai komoditas dekorasi, ketersediaan bunga di Bali dalam jumlah banyak sangatlah penting. Bunga yang dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan Puspam merupakan 1 dari 5 materi yang wajib dipersembahkan saat sembahyang. Selain puspam, ada pula agni (api), toyam (air), palam (buah), dan patram (daun).

Pernah beberapa kali terjadi kelangkaan bunga tertentu di Bali yang disebabkan oleh faktor cuaca dan mungkin faktor lain. Akibatnya harga bunga tersebut menjadi mahal dan berakibat semakin sedikitnya jumlah bunga yang dipersembahkan saat sembahyang. Tentu hal ini sedikit banyak menjadi masalah bagi warga Hindu di Bali yang setiap hari tidak dapat dipisahkan dengan bunga. Namun karena tidak hanya 1 jenis bunga yang tumbuh di Bali, syukurlah masih ada banyak alternatif jenis bunga yang dapat digunakan sebagai persembahan.

Keberadaan kebun bunga Gumitir cukup menarik perhatian karena warnanya yang ‘tidak biasa’. Bagian bunga yang berdiameter sekitar 10cm  dan berwarna kuning tua agak oranye membuatnya dapat dikenali dari kejauhan, bahkan dari jarak 100 meter sekalipun. Tidak sedikit wisatawan yang meminta berhenti sebentar di kebun gumitir dan ber-swafoto di tengah-tengahnya. Jangan heran dan menganggap mereka kampungan karena sampai saat ini hanya di Bali (CMIIW) saya dapat menjumpainya dalam jumlah banyak.

Untuk memetik bunga Gumitir tidaklah susah. Alat yang digunakan pun cukup sederhana. Hanya dengan gunting kecil yang biasanya digunakan untuk memotong kertas, para petani bunga sudah dapat memanen Gumitir. Karena sedang memasuki musim hujan, ada saja air yang terjebak diantara mahkota bunga Gumitir. Agar dapat bertahan lama (tidak mudah benyek / busuk), air yang ada di mahkota bunga harus dikibas-kibaskan. Selain untuk menghindari pembusukan yang lebih cepat, mengurangi kandungan air adalah cara agar timbangan bunga di tengkulak lebih akurat. Hal ini dikarenakan tengkulak menerima bunga dari petani dengan hitungan massa (berat per kilogram).

Bunga yang telah dipetik dan dikibas-kibaskan kemudian dikumpulkan dalam keranjang. Dengan bantuan 3 orang tenaga pemetik, perlu waktu minimal 3 jam untuk mengumpulkan sekitar 12 keranjang (seperti gambar di bawah) penuh bunga Gumitir. Selanjutnya bunga dibawa ke pasar / tengkulak untuk dijual. Bunga inilah yang sering kita temui di canang yang dibuat oleh warga Hindu di Bali sebagai kebutuhan untuk sembahyang sehari-hari.

Penasaran dengan kebun bunga Gumitir di Bali? Karena saya hanya menemui kebun bunga Gumitir di daerah pegunungan, sepertinya hanya di sekitar Bedugul / Plaga kita dapat menemuinya dalam jumlah banyak. Kalaupun ingin menjumpai kebun bunga Gumitir di lokasi yang dekat dengan pusat Kota Denpasar, silakan hunting di daerah sekitar Abiansemal / Baturiti.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jepret dan sukses untuk kita semua.

Share Post :

More Posts :

Leave a Reply