Gowes dengan Masker Berbahaya?

Gowes dengan masker
Gowes dengan masker
Gowes dengan masker

Di masa pandemi terlihat ada peningkatan jumlah pesepeda baik di jalan aspal maupun di jalur tanah. Tidak sedikit dari mereka yang gowes menggunakan masker karena menaati himbauan pemerintah soal penggunaan masker di tempat umum. Bagi saya, menggunakan masker kesehatan saat gowes cukup mengganggu karena uap yang keluar dari masker bagian atas sering mengganggu penglihatan terutama ketika menggunakan kacamata. Jika tidak menggunakan masker saat masa pandemi pasti ada saja yang nyinyir. Nah, pro kontra soal penggunaan masker saat gowes sempat dibahas oleh dr. Endri Budiwan melalui grup FB “Roadbike Indonesia”. Berikut ulasannya.

Saat sedang olahraga, kebutuhan O2 kita meningkat. Semakin tinggi intensitasnya, maka kebutuhan oksigen makin meningkat juga. Penggunaan masker akan mengurangi volume O2 yang dihirup dan menghambat pembuangan CO2. Semakin tinggi efektivitas filtrasi masker (misalnya masker N95), maka volume O2 juga makin menurun saat menggunakan masker tersebut.

Untuk beberapa orang yang memiliki faktor risiko gangguan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) maka penggunaan masker bisa menjadi faktor pencetus serangan jantung atau gangguan kardiovaskular lainnya. Tanda-tanda serangan awal seperti hyperventilasi (nafas cepat) karena tubuh kekurangan oksigen dan CO2 menumpuk. Karena kondisi tubuh kekurangan oksigen maka jantung akan memompa semakin cepat sebagai mekanisme kompensasi dan kemudian mengakibatkan kepala berkunang-kunang. Sehingga disarankan agar hati-hati saat muncul tiga gejala diatas: nafas cepat, denyut jantung lebih cepat dari biasanya atau lebih cepat dari seharusnya, dan kepala mulai kunang-kunang.

Tips aman gowes dimasa pandemi:

  1. Sebisa mungkin diam di rumah atau gowes pake indoor trainer.
  2. Kalau harus gowes, sebisa mungkin gowes sendirian.
  3. Cari rute yang sepi sehingga tidak perlu pakai masker.
  4. Kalau ada pengguna jalan lain, sebaiknya tidak segaris lurus. Kalau segaris lurus sebaiknya beri jarak 20 meter ke depan dan ke belakang.
  5. Kalau ingin menyalip goweser lain, keluar dari garisnya saat jarak 20m dibelakang dia. Setelah menyalip sekitar 20 meter, kembali ke garis lurus dengan pesepeda di belakang.
  6. Kalau harus gowes pake masker, kurangi intensitasnya. Pakai HR sensor dan jangan melewati zona 3 jantung. Sebagai info: masker semakin tidak efektif dalam mencegah droplet kalau sudah basah. Maka dari itu disarankan ganti masker tiap 4 jam atau kalau sudah lembab. Tidak mungkin masker tetap kering saat gowes.

Secara umum, risiko penularan COVID-19 di luar ruangan sangat kecil karena droplet akan cepat tercampur dengan udara bebas sehingga konsentrasi virus dalam droplet akan menurun. Kalau gowes dalam peloton ya risikonya lebih tinggi karena droplet dari para goweser di depan akan terus menerus terhirup oleh goweser di belakang. Seberapa tinggi risikonya gowes dalam peloton? Tidak ada yang tahu.

Kalau ada yang bilang mereka terbiasa gowes pakai masker dan aman-aman saja, maka kemungkinannya ada banyak:

  1. Memang menggunakan masker tidak memiliki risiko gangguan kardiovaskular.
  2. Masker yang digunakan cuma sekedar buff (efektivitas menahan droplet sangat kecil) atau dipakainya tidak kedap.
  3. Gowesnya ringan.
  4. Ya belum kejadian aja, mirip seperti orang naik sepeda motor ngebut ugal-ugalan tapi belum kecelakaan.

Kenapa banyak yang defensif membela masker dan menyalahkan pegowes yang meninggal? Mungkin karena secara tidak sadar ada kekhawatiran gowes akan dilarang karena kejadian ini. Mungkin karena mereka memang tidak paham soal medis. Soal pesepeda yang meninggal tersebut apa penyebab pastinya, ya hanya bisa dipastikan dengan visum yang detil. Visum ini sangat-sangat jarang dilakukan kecuali ada permintaan polisi. Jadi, tidak bisa disimpulkan bahwa ada pesepeda yang meninggal karena menggunakan masker dan masker bukan penyebab (faktor pencetus) meninggalnya pesepeda tersebut.

Masih ingin menggunakan masker saat bersepeda? Silakan. Jika tidak ingin pun tidak masalah. Yang penting tetap menerapkan physical distancing dengan tidak berkerumun baik saat bersepeda dan istirahat. Yuk gowes!!

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua..

Tentang Penulis

Anom Harya

Hobi bersepeda, jalan-jalan, dan memotret. Suka menulis tentang sepeda, traveling, dan fotografi di anomharya.com. Bekerja penuh waktu di OTTO tour yang bergerak di bidang pariwisata. Jika ingin dipandu bersepeda atau memotret di Bromo / Malang, chat aja via WA ke +6285288776565 atau kirim email lewat link ini

2 Comments

Leave a Reply