Belajar Arti Hidup dengan Bersepeda

Aku, sepedaku, dan teman-temanku
Aku, sepedaku, dan teman-temanku di B2W Malang

Bersepeda memang hobi saya sejak kecil. Hobi ini semakin menggila sejak kelas 4 SD. Waktu itulah saya mendapat hadiah dari orang tua berupa sebuah sepeda MTB 26″. Yah, namanya juga keluarga sederhana, sepeda yang dibelikan oleh orang tuaku memang tidak mahal. Tapi cukup untuk memberikan banyak pelajaran tentang arti hidup.

Continue Reading

Ibuku, Kartini Masa Kini

Foto Kartini

Pernahkah Anda memiliki sesosok Kartini di kehidupan Anda? Saya pernah bertemu dengannya. Bahkan saya pun bangga menjadi bagian dari kehidupannya. Siapakah dia?

Sosok mirip Kartini itu adalah ibuku. Ibuku adalah Kartini masa kini. Mengapa aku bisa menyebut beliau sebagai seorang Kartini dalam hidupku? Apa jasa beliau sehingga aku bisa menyebutnya sebagai seorang Kartini?

Sebelum kita membahas lebih jauh, ada perlunya kita mengenal seorang Kartini yang lahir di Jepara. Nama aslinya adalah Raden Ajeng Kartini. Ia adalah anak seorang bangsawan yang masih taat pada adat istiadat pada saat itu. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan.

Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia).

Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita.

Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Dari gambaran kehidupan Kartini saat itu, aku bisa menyimpulkan bahwa ibuku memiliki darah seorang Kartini. Beliau adalah seorang ibu yang tak kenal menyerah dalam memperjuangkan hidup keluarga. Ayahku yang seorang abdi negara (baca : polisi) merasa gajinya kurang untuk menghidupi 4 anaknya yang mulai beranjak remaja dan butuh pendidikan semakin tinggi.

Aku teringat perkataan ibuku, “Bersyukurlah kamu nak, teman ayahmu yang setingkat dengannya memiliki banyak hutang. Ia tak bisa menyekolahkan anaknya seperti ayahmu menyekolahkan dirimu hingga seperti ini.” Aku memang hanya seorang mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah Strata I, namun tak pernah kurasakan kesulitan sekalipun penghasilan ayahku pas-pasan.

Ada banyak cerita tentang polisi di jalanan. Aku tak peduli itu. Ibuku selalu mengingatkan ayahku untuk menghasilkan uang bukan dengan cara melakukan pungutan liar. Aku pun terdidik olehnya untuk selalu menghargai setiap sen uang yang dikeluarkan oleh orang tuaku. Hingga kini, syukurlah aku bisa menikmati bangku kuliah meski kebanyakan teman-temanku jenuh akan tugas yang mengalir di dalamnya.

O iya, perlu diketahui pula bahwa ibuku adalah seorang pengusaha kecil. Beliau membuka usaha pembuatan kue dan makanan di rumah. Aku yang kini berada di luar kota, selalu terharu melihat perjuangan nyata ibuku dalam mencari uang ketika aku berada di rumah. Betapa tidak manusiawi-nya aku ketika membiarkan melihat ibuku bangun subuh dan tidur menjelang subuh pula dalam sehari.

Beliau selalu bercerita di keesokan harinya, tadi malam hanya tidur beberapa jam saja. Entahlah, kenapa selalu cerita itu yang kudengar dari ibu setiap hari. Sepertinya ibu tak pernah bosan untuk menghasilkan uang bagiku dan adik-adikku.

Aku harus bisa bertahan dan menunjukkan bahwa ibuku adalah Kartini bagiku. Bagaimana dengan Anda? Adakah seorang Kartini yang bersinggasana dalam kehidupan Anda saat ini? Jika Anda telah menemukannya, jagalah ia. Aku yakin ibuku sedang membuat kue ketika aku menulis artikel ini. Ibu, aku ingin pulang dan menemuimu malam ini juga. Akan kutemani dirimu menghabiskan malam ini untuk menghasilkan uang.

Salam dari anakmu,
Anom Harya

Continue Reading

Jangan Serahkan Kemerdekaan Hidupmu

Elang hitam terbang bebas di angkasa

Kebanyakan orang mudah iri pada orang lain yang mendapatkan sesuatu dengan mudah. Bagaimana dengan Anda? Adakah sifat demikian yang mendarah daging dalam hidup Anda? Mari kita simak cerita berikut untuk memahami arti sebuah kemerdekaan hidup.

Dalam sebuah kehidupan terdapat sepasang sahabat, elang hitam dan elang putih. Mereka berdua selalu bersamaan dalam berbagai kegiatan. Terbang bersama, makan bersama, hingga tinggal pun selalu di tempat yang sama. Suatu hari, mereka membuat rencana terbang ke suatu tempat untuk mencari makanan. Di perjalanan mereka bertemu dengan sekumpulan sapi yang sedang makan di ladang.

Kemudian elang putih mengajak elang hitam untuk mampir kesana, “Hitam, di bawah sana sepertinya ada sesuatu yang bisa kita makan. Kenapa kita tidak turun saja sebentar?” Elang hitam menyetujuinya dan kemudian mereka bersama-sama turun ke ladang tersebut.

Sesampainya di ladang, mereka bertemu seekor sapi yang sangat ramah. Elang putih membuka pembicaraan dengan meminta ijin ke sapi tersebut, “Hai sapi, sepertinya di tempatmu ada banyak makanan. Bolehkah aku minta sedikit?” Sapi pun menerima mereka dan menjawab, “Oh, silahkan elang. Kami tidak keberatan.

Kedua elang bersahabat itu heran kenapa ada yang mau membagikan makanannya pada binatang asing. Padahal mereka berdua sangat protektif terhadap makanan yang mereka peroleh. Tak pernah sekalipun mereka membagi makanan dengan binatang lain.

Saking herannya, elang hitam bertanya pada sapi, “Kenapa kamu mau berbagi makanan dengan kami? Bukankah kami asing di bagimu?” Sapi pun menjawab pertanyaan elang hitam, “Tidak masalah. Kami masih punya banyak jagung disini. Jika kamu ingin memintanya, kami sangat terbuka sekali. Silahkan saja langsung mengambil sepuas hati.

Kedua elang bersahabat itu kemudian makan jagung yang ada di ladang. Sambil makan, elang putih bertanya-tanya pada sapi tadi,”Eh sapi, enak sekali kamu punya makanan sebanyak ini. Apa rahasianya?” Sapi tidak terkejut dengan pertanyaan seperti ini. Mungkin elang putih adalah penanya kesekian yang menanyakan pertanyaan yang sama. Sapi pun menjawab, “Kami sudah biasa hidup seperti ini. Jagung melimpah karena petani yang menyayangi kami. Dan yang perlu kamu tahu, kami tak perlu bekerja untuk mendapatkan semua ini.

Elang putih terkesima dengan jawaban sapi dan ia berdiskusi dengan elang hitam, “Hitam, kenapa kita tidak tinggal disini saja? Bukankah kita bisa makan sepuasnya disini?” Elang hitam menjawab, “Sepertinya aku kurang tertarik dengan pikiranmu. Aku lebih suka menjadi elang yang bebas meski sulit untuk mencari makan.

Elang putih kembali bertanya pada elang hitam, “Hitam, seandainya aku memilih tinggal disini apa kamu tidak keberatan?” Elang hitam dengan berat menjawab, “Sepertinya tidak, putih. Aku menghargai pilihanmu. Tapi aku juga punya pilihan. Aku lebih memilih menjadi elang yang bebas.

Tekad elang putih sudah bulat karena elang hitam menyetujui permintaannya tersebut. Setelah elang hitam makan cukup banyak, ia berpamitan pada elang putih, “Putih, aku pamit pergi dulu. Kamu baik-baik ya disini.

Elang hitam pergi dan mulailah kehidupan elang putih di ladang itu. Setelah beberapa bulan, tubuh elang putih semakin gemuk. Namun ia sangat bahagia dengan kegemukannya tersebut karena tak harus susah-susah mencari makanan.

Suatu hari, pemilik ladang ingin memakan daging elang putih dan elang putih pun mengetahui rencana itu. Ia berusaha untuk terbang tapi tidak bisa karena terlalu gemuk. Akhirnya hidup elang putih pun berakhir menjadi santapan Sang petani.

Sahabat, terkadang kita iri dengan kehidupan tetangga yang mudah mendapatkan sesuatu. Apa yang tetangga miliki, terkadang kita juga ingin memilikinya. Namun tahukah Anda dibalik semua itu sebenarnya adalah kemerdekaan hidup kita yang dijajah. Kita diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk menjadi diri sendiri tapi pudar karena sifat ingin menjadi seperti orang lain.

Dari cerita ini bisa kita ambil pesan bahwa menjadi diri sendiri lebih baik daripada harus hidup sebagai orang lain. Maka dari itu, tetapkan jalan Anda dan jangan mudah berpaling darinya meskipun itu tidak enak. Toh, yang tidak enak itu sebenarnya adalah kehidupan paling ideal bagi Anda kan?

Selamat menjalani hari-hari menjadi diri sendiri.
Salam sukses untuk kita semua.

Continue Reading

Bekerja Keras Tanpa Memandang Hasil

Ilustrasi nelayan di pantai

Hidup mewah dan serba berlebihan adalah cita-cita orang ketika dirinya memulai suatu usaha. Pernahkah Anda berpikir demikian? Jika ya, simak cerita berikut untuk membuka pikiran Anda.

Pada suatu hari, bertemulah seorang profesor dengan seorang nelayan di pantai. Sang profesor itu membuka pembicaraan dan Sang nelayan pun tertarik untuk berbincang dengannya.

Profesor : Halo pak, baru pulang dari melaut ya?
Nelayan : Iya pak. Ini hasil tangkapan saya dari tadi subuh.
Profesor : Wah, hasilnya lumayan banyak ya?
Nelayan : Syukur lah pak, yang penting bisa untuk makan sekeluarga selama sehari ini.
Profesor : Nanti setelah ini mau kemana pak?
Nelayan : Saya mau makan siang bersama keluarga. Setelah itu tidur sebentar. Bangun tidur saya mau bermain bersama anak-anak yang baru pulang dari sekolah. Kemudian menjelang malam saya makan malam bersama keluarga. Setelah itu, saya pergi ke warung untuk ngobrol bersama teman-teman yang lain.

Profesor terkagum mendengar padatnya kegiatan nelayan itu. Lalu Ia pun menyambung pembicaraan tersebut.

Profesor : Wah, kegiatan Bapak banyak sekali ya? Apa Bapak tidak ingin dapat ikan lebih banyak dari ini?

Sang nelayan penasaran dengan perkataan yang baru saja dikatakan profesor.

Nelayan : Memangnya bisa pak? Bagaimana caranya?
Profesor : Andai Bapak melaut sampai sore, saya yakin ikan yang Bapak dapat bisa 3x lipat dari hasil sekarang ini. Jika Bapak konsisten, 9 bulan kemudian Bapak bisa membeli perahu yang ukurannya 4x lebih besar dari perahu milik Bapak sekarang. Jika Bapak terus bekerja seperti itu, 5 tahun kemudian Bapak bisa jadi juragan kaya dan menggaji banyak orang. Nanti kalau usaha Bapak meningkat, Bapak bisa pindahkan kantor ke ibukota. Saya yakin bapak bisa jadi jutawan. Percayalah Pak, Saya adalah salah satu profesor sekolah bisnis di ibukota dan sudah sering menangani hal seperti ini.

Sang nelayan yang mendengarkan nasihat profesor kemudian bertanya pada profesor tersebut

Nelayan : Nanti kalau uang saya banyak, untuk apa uang itu Pak?

Profesor terdiam karena Ia tidak memikirkan idenya sampai sejauh itu. Dengan cepat Ia mendapat jawabannya.

Profesor : Kalau uang Bapak banyak, nanti kan bisa makan enak bersama keluarga. Bapak bisa santai-santai sambil tidur siang. Bapak bisa bermain bersama anak-anak setelah pulang sekolah. Kemudian, di malam hari Bapak bisa bercengkrama dengan teman-teman di warung.
Nelayan : Sekarang saya kan sudah bisa seperti itu pak?

Sang profesor pun kehabisan kata. Dan pembicaraan terhenti sampai disitu.

Sahabat, terkadang kita memikirkan tujuan bekerja keras untuk mendapatkan harta yang berlebih. Namun, tahukah Anda jika sebenarnya kebahagiaan itu bukan sesuatu yang bisa dinilai dari harta?

Bekerja keras memang perlu, tapi jangan memandang sebesar apa hasil yang bisa didapatkan darinya. Hidup yang sebenarnya adalah hari ini. Dan jika Anda benar-benar memanfaatkan hari ini, maka hari esok menjadi milik Anda.

Kesuksesan adalah sesuatu yang abstrak. Hal nyata-nya adalah hasil dari kerja keras tersebut.
Semoga selalu diberkati Tuhan untuk senantiasa bekerja keras.

Terima kasih.
Anom Harya.

Continue Reading
1 3 4 5 6 7 13