Motret Sapi di Taman Nasional Baluran

Sapi di Taman Nasional Baluran
Sapi di Taman Nasional Baluran
Sapi di Taman Nasional Baluran

Motret sapi? Awalnya saya sempat skeptis bahwa memotret sapi cukup menyenangkan. Berawal dari ajakan seorang teman yang ingin mengeksplorasi Taman Nasional Baluran sampai ke bagian dalamnya, ‘tersesatlah’ saya dalam keasyikan memotret sapi.

Jika membayangkan Taman Nasional Baluran hanya sebesar tempat wisata yang sampai saat ini dibuka untuk wisatawan, Anda salah besar. Meski telah beberapa kali berkunjung, saya baru sadar bahwa Taman Nasional Baluran sangat luas. Bayangkan jika 1 lapangan sepak bola seluas 8.250 meter persegi, artinya luas Taman Nasional Baluran setara dengan 30.303-an kali lapangan sepak bola.

Berkunjung ke Pedalaman Taman Nasional Baluran
Berkunjung ke Pedalaman Taman Nasional Baluran

Jangan bayangkan ada aspal mulus seperti yang telah dibangun di kawasan wisata Baluran. Kami harus melewati jalan setapak dengan lebar kurang dari 1 meter. Mayoritas jalur yang kami lewati berupa padang rumput tanpa naungan pohon. Sesekali kami lewati jalur berbatu minimal seukuran kepalan tangan. Ada juga jalur setapak yang melewati hutan dengan kanopi rindang. Yang pasti, jalur ini tidak bisa dilewati saat musim hujan (karena berlumpur) dan sangat berdebu saat musim kemarau.

Butuh waktu sekitar 30 menit (sekali jalan) dengan sepeda motor untuk mencapai Dusun Merak. Kunjungan kami sore itu di Dusun Merak kurang dari 30 menit. Karena hari sudah gelap dan tidak ada perencanaan yang matang, kami putuskan untuk kembali ke pusat keramaian di desa. Kembali ke pusat desa kami putuskan setelah tahu bahwa di Dusun Merak tidak ada penginapan yang memadai. Jika terpaksa harus menginap, kita bisa menggunakan rumah warga sebagai persinggahan.

Warga di Pedalaman Taman Nasional Baluran
Warga di Pedalaman Taman Nasional Baluran

Menginap di Dusun Merak sangat cocok bagi Anda yang ingin memotret sekaligus menyepi / menjauh dari rutinitas sehari-hari. Perlu diketahui, listrik di Dusun Merak hanya mengalir pada malam hari. Itupun listrik yang dihasilkan dari generator listrik swadaya warga. Bertanya soal internet? Bisa menerima telpon saja kami sudah bahagia. Hehe. Tapi jika terpaksa harus memanfaatkan koneksi internet, kita harus mengendarai sepeda motor sekitar 5 – 10 menit ke arah pantai. Disini sinyal dari provider Telkomsel dapat diterima cukup baik. Terbukti, saya sempat mengunggah IG story dari sekitar pantai dan berhasil membuat beberapa kawan penasaran dengan lokasi pantai ini. Apa Anda juga penasaran?

Gunung dan Laut di Taman Nasional Baluran
Gunung dan Laut di Taman Nasional Baluran

Kembali ke urusan sapi, inilah yang membuat Dusun Merak spesial. Ribuan sapi hidup di sebuah dusun yang jauh dari pusat desa (bukan pusat kota lho). Dusun Merak menjadi semakin spesial karena sapi hidup mandiri disana. Setiap pagi para pemilik / pengelola membuka kandang agar sapi bisa keluar dan mencari makan. Sapi-sapi ini jalan ke hutan yang berada di sekitar dusun. Saat menjelang sore, sapi-sapi ini jalan melewati tepi pantai untuk kembali ke kandangnya. Yang berkesan bagi saya, mereka seakan tahu jam pulang dan juga rute untuk kembali ke kandangnya. Saya semakin terkesan karena mereka bisa menghafal lokasi kandangnya padahal ada sangat banyak kandang sapi yang didirikan di sepanjang tepi pantai.

Sapi di Taman Nasional Baluran
Sapi Berangkat Mencari Makan di Hutan Baluran

Namanya juga hewan, tentu harus diarahkan agar sesuai rencana. Ketika sapi meninggalkan kandang, ada 1 atau 2 orang penggembala yang biasanya berada di belakang rombongan untuk mengarahkan sapi-sapi ini. Saat berada di hutan / sabana, penggembala bertugas untuk menjaga keamanan sapi dari serangan hewan predator. Tidak hanya itu, saat sapi akan dijual – para penggembala harus jalan kaki menggiring sapi hingga ke pusat desa. Jarak Dusun Merak sampai ke pusat Desa Sumberwaru setara dengan jarak Ranu PaneRanu Kumbolo (10km) yang normalnya membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Karena dengan menggiring sapi, durasi yang dihabiskan untuk menyusuri jalur setapak menjadi sekitar 8 jam. Jika Anda diberi pilihan, mau menggendong tas ransel selama 4 jam atau jalan bareng sapi selama 8 jam? Hihihi. 

Menunggu Sapi Pulang di Taman Nasional Baluran
Menunggu Sapi Pulang ke Dusun Merak

Ingin berkunjung ke Taman Nasional Baluran untuk melihat ribuan sapi jalan di tepi pantai? Silakan ikuti beberapa tips berikut:

  1. Berangkat dari pusat Dusun Sidomulyo (Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo) sebelum matahari terbit dengan sepeda motor agar tiba di Dusun Merak sekitar jam 6 pagi. Sapi-sapi secara bertahap keluar dari kandang mulai jam 6 hingga paling lambat jam 8 pagi.
  2. Jika sudah berada di tepi pantai saat dini hari, kemungkinan besar untuk mendapatkan momen golden hours sebelum matahari terbit sangat besar. Silakan menggunakan kreativitas Anda untuk mengabadikan momen matahari terbit di Dusun Merak.
  3. Jangan kembali ke Dusun Sidomulyo saat tengah hari. Kita masih bisa mengabadikan seluruh wilayah Sabana saat daylight. Pemandangan padang rumput yang sesekali diramaikan dengan sapi cukuplah unik. Jika bisa mengabadikannya dengan baik, tidak ada waktu yang terbuang selama berada disana.
  4. Jika memiliki drone, saya yakin Anda tidak akan membiarkannya terus berada di dalam tas saat berkunjung ke Dusun Merak.
  5. Jangan habiskan baterai kamera Anda sebelum benar-benar sampai di Dusun Sidomulyo. Saya yakin Anda akan gatal untuk mengabadikan semua momen saat berada di Dusun Merak. Sayangnya disana tidak ada listrik saat siang hari. Tidak ada solusi saat baterai habis kecuali Anda bisa me-recharge baterai dengan power bank atau sejenisnya.
  6. Jika kehabisan ide / tenaga untuk berkeliling sabana, mampirlah ke warung lokal milik warga. Ada beberapa warung yang bisa Anda kunjungi. Bertanyalah ke warga tentang lokasi warung terdekat agar Anda tidak tersesat.
  7. Kembalilah ke Dusun Sidomulyo dengan sepeda motor sekitar pukul 16.30 WIB. Jika menemukan tempat yang indah untuk mengabadikan matahari terbenam, berhentilah sejenak disana. Momen matahari terbenam di tengah padang rumput membuat foto Anda seakan diabadikan di Afrika. Jangan heran jika Baluran disebut sebagai Africa van Java.
Sunset dan Sapi di Taman Nasional Baluran
Sunset dan Sapi di Taman Nasional Baluran

Sudah gatal ingin berkunjung ke Dusun Merak? Pastikan Anda pamit ke keluarga / rekan kerja supaya mereka tidak khawatir dengan keberadaan Anda yang seperti hilang ditelan bumi. Hehehe.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam njepret dan sukses untuk kita semua.

You may also like

Leave a Reply