Membedakan Tipe Sepeda Gunung (MTB – Mountain Bike)

Ada banyak tipe MTB, pilih yang mana?
Ada banyak tipe MTB, pilih yang mana?

Ada banyak tipe sepeda gunung (MTB) yang ketika digunakan tentu harus disesuaikan dengan kondisi jalur yang akan dilewati. Memang tidak haram hukumnya jika ada yang menggunakan sepeda DH untuk CFD. Tapi apakah itu sesuai dengan peruntukannya? Dalam tulisan berikut akan dipaparkan mengenai jenis MTB agar Anda tidak salah membeli / menggunakan MTB.

Klasifikasi sepeda gunung berdasarkan suspensi:

  • Fully Rigid : Sepeda gunung yang tidak memiliki suspensi. Sempat populer di tahun 80-90an terutama merk Federal.
  • Hardtail : Jenis ini hanya memiliki suspensi di depan (fork). MTB tipe ini sangat efisien dipakai di medan tanjakan. Cocok untuk kondisi jalan tanah rata & medan cross country (XC).
  • Full Suspension/Dual Suspension : Biasa disingkat fulsus. Memiliki suspensi depan dan belakang. Tipe ini nyaman dipakai pada kondisi jalan tanah, berbatu, atau jalan tidak rata. Tidak efisien untuk jalan menanjak rata karena efek tolakan balik akibat rantai mengendor atau mengencang pada saat suspensi belakang mengayun atau sering disebut efek bobbing. Sistem suspensi juga beberapa macam, seperti single pivot point, four bar linkage dan yang paling modern virtual pivot point yang sangat bagus meredam efek bobbing. Sekarang sudah ada fitur lock untuk mematikan suspensi sehingga kayuhan menjadi efisien.
Dari kiri ke kanan : Fully Rigid, Hardtail, Full Suspension
Dari kiri ke kanan : Fully Rigid, Hardtail, Full Suspension

 

Kalsifikasi sepeda gunung berdasarkan fungsi:

  • Cross Country (XC) : Dirancang untuk lintas alam dan didesain agar efisien & optimal pada saat mengayuh & menanjak. Mempunyai rentang harga paling lebar, dari satu jutaan sampai hingga puluhan juta rupiah. Kebanyakan XC berjenis hardtail namun dengan berkembangnya teknologi suspensi belakang, membuat efek bobbing semakin kecil bahkan bisa di kunci, kini sepeda XC juga banyak dilengkapi dengan suspensi belakang. Bobot sepeda XC berkisar 9-14 kg dan dirancang untuk memakai suspensi depan dengan travel 6-10 cm.
  • All Mountain (AM) : Disebut juga enduro atau trailbike. Dirancang untuk lintas alam berat, seperti naik turun bukit dan keluar masuk hutan. Hampir semua AM bertipe fulsus. Perbedaan dengan XC fulsus adalah travel suspensi belakang AM fulsus lebih panjang. Berat antara 14-16 kg dengan travel suspensi depan hingga 15 cm.
  • Freeride (FR) : Dirancang untuk mampu bertahan menghadapi drop off (lompatan) tinggi, tapi tidak secepat dan selincah AM karena bobot lebih berat. Travel suspensi depan sangat panjang, yaitu 16-20 cm. Bobot mencapai 16-23 kg. Hampir sama dengan spesifikasi downhill sehingga juga dapat dipakai untuk turun bukit.
  • Downhill (DH) : Dirancang untuk dapat melaju cepat, aman dan nyaman menuruni bukit dan gunung. Mampu menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi. Bentuk mirip FR tapi DH tidak mengutamakan kenyamanan mengayuh karena hanya dipakai untuk turunan. harga mencapai puluhan juta rupiah. Suspensi depan bertravel 16-20 cm dan bobot 18-23 kg.
  • Dirtjump (DJ) : Nama lainnya urban MTB. Selain dipakai sebagai alat transportasi kota juga dipakai untuk atraksi lompatan, menaiki anak tangga dll. Fungsinya mirip BMX tapi dengan bentuk yang lebih besar. Berat 13-18 k.

* Sumber: Buku β€œBicycling for Fun” karya Bayu Why.

Dari kiri ke kanan, atas ke bawah
Dari kiri ke kanan, atas ke bawah : XC Hardtail, XC Fullsus, All Mountain (AM), Freeride (FR), Downhill (DH), Dirtjump (DJ)

Sudah paham mengenai tipe sepeda gunung? Lalu apa tipe sepeda Β Anda dan bagaimana peruntukannya? Semoga tidak salah dalam memilih sepeda gunung πŸ™‚

Sumber :Β mtbgoes

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply