Memotret Seharian di Pantai Ngudel

Pantai Ngudel in Motion
Pantai Ngudel in Motion
Pantai Ngudel in Motion

Ekspedisi untuk mengabadikan keindahan pantai di selatan Malang belum selesai. Pantai Ngudel sempat hits pada tahun 2017 karena beberapa media sering menyorot keindahannya. Tidak hanya media lokal, media nasional pun turut meramaikan pemberitaan positif tentang Pantai Ngudel. Pantai Ngudel menarik perhatian saya karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Nganteb yang saya kunjungi sebelumnya. Dalam tulisan ini saya akan membagikan keindahan Pantai Ngudel dari sisi fotografi landscape.

Jalan beraspal baik sepanjang 2,5km dari  jalan utama (JLS) telah dibangun untuk mengakses bibir Pantai Ngudel. Setelah melewati loket retribusi, saya dibuat takjub dengan keteduhan di Pantai Ngudel.

Tidak susah mencari tempat teduh di Pantai Ngudel karena seluruh area seluas 1 lapangan sepak bola ditumbuhi Cemara Udang. Pohon Cemara Udang setinggi 10 meter dengan jarak masing-masing sekitar 5 meter mulai ditanam sekitar tahun 2015 – 2016. Tumbuhan ini menjadi peneduh area parkir mobil maupun camping ground. Jika ingin berkemah di tepi pantai dan tetap sejuk saat siang hari, Pantai Ngudel sangat cocok dengan kriteria yang Anda butuhkan.

Karakter bibir pantai di Pantai Ngudel cukup miring. Dengan perbedaan ketinggian sekitar 4 meter, saya harus turun untuk menuju wilayah yang dibasahi air. Ada cukup banyak batu besar yang terletak di pasir pantai. Bebatuan ini sesekali saya pilih sebagai foreground karena tidak ada lagi Point of Interest (POI) yang dapat saya jadikan sebagai foreground saat itu. Sesekali tercipta water splash / cipratan air ketika ombak tinggi menghantam bebatuan. Momen ini tentu tidak boleh dilewatkan. Teknik pemotretan motion dengan kecepatan rana (shutter speed) sekitar 1/3 sampai 1/10 saya pilih agar gerakan air masih dapat dikenali dalam foto.

Pantai Ngudel Long Exposure
Pantai Ngudel Long Exposure

Tidak sedikit pula momen yang saya abadikan dengan teknik long exposure (mode BULB). Karena ada pergerakan awan yang cukup cepat, saya putuskan untuk menggunakan kecepatan rana antara 2 hingga 4 menit. Keputusan ini saya ambil karena pergerakan awan terlihat kurang dinamis dengan kecepatan rana kurang dari 1 menit. Batu karang yang terletak di tengah laut menjadi objek diam yang saya pilih. Komposisi objek berupa awan bergerak, ombak tinggi, dan batuan karang cukup ampuh untuk membuat foto pemandangan dengan teknik long exposure.

Cukup beresiko untuk mengaktifkan mode BULB dan mengatur kecepatan rana lebih dari 1 menit di saat matahari bersinar cukup terik. Kondisi lingkungan yang relatif panas dan komponen kamera yang bekerja lebih lama (tanpa jeda) seringkali dapat merusak sensor. Syukurlah sejauh ini tidak ada tanda-tanda kerusakan sensor pada kamera saya.

Long Exposure of Pantai Ngudel
Long Exposure of Pantai Ngudel

Menjelang gelap, saya sempat pesimis dengan kondisi langit di ufuk barat. Karena melihat awan gelap dan bahkan turun hujan di wilayah lautan, sepertinya sunset sore itu tidak akan cetar. Langit cetar adalah istilah para penikmat fotografi berjenis landscape untuk mewakili langit indah dengan banyak warna khas matahari terbit / terbenam. Ternyata asumsi saya salah karena matahari menjadi merah bulat sebelum tenggelam dibalik garis horizon. Sialnya, saya tidak dapat mengabadikan momen matahari merah bulat sedang terbenam karena saya sedang sibuk menerbangkan drone saat itu. Beberapa foto Pantai Ngudel yang saya abadikan dengan drone bisa Anda lihat di artikel yang berjudul “Aerial Photo Pantai Ngudel“.

Berminat untuk memotret di Pantai Ngudel? Yuk yuk kita mengabadikan momen sunset di Pantai Ngudel.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam njepret dan sukses untuk kita semua.

You may also like

Leave a Reply