Bukan Buleleng kalau alamnya tidak kering. Apalagi Kecamatan Sawan dan Kubutambahan yang terkenal begitu gersang. Pengalaman gowes di Desa Bulian mungkin mirip dengan gowes di Hutan Baluran: panas dan kering. Itulah mengapa kami putuskan untuk gowes di sana pada sore hari.

Berangkat dari pusat Kota Buleleng pukul 15.30 WITA, kendaraan angkut kami sampai di Bulian sekitar pukul 16.30 WITA. Matahari masih cukup tinggi, tak dibayangkan jika memilih gowes dari rumah yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari titik start. Mungkin sudah lelah duluan.
Start dari elevasi sekitar 200 MDPL, kami lewati perbukitan yang dipenuhi tumbuhan semak belukar. Jalurnya didominasi turunan namun ada beberapa bagian yang flat sehingga menuntut pedalling untuk tambah adrenalin. Sesekali masuk kampung dan kebun mangga yang pohonnya sedang berbuah lebat.

Kontur berupa turunan sesekali menyajikan pemandangan pantai utara Bali dari atas bukit. Karena gowesnya sore, pemandangan jadi makin syahdu terkena efek golden hour sebelum matahari terbenam.
Tidak ada turunan yang curam atau patah (drop off). Pengguna sepeda XC trail fullsus dan bahkan hardtail kupastikan masih bisa menikmati single track di sini. Kalau ada tanjakan, jaraknya hanya sekitar 100 meter dengan perbedaan elevasi 5-10 meter setiap tanjakan. Dituntun saja kalau tidak kuat nanjak.
Desa Bulian tidak hanya memiliki 1 jalur setapak. Sejauh ini sudah ada 3 jalur yang pernah dilewati pesepeda. Saya sudah mencoba 2 jalur yang titik awalan dan akhirannya tidak terpaut jauh. Kuberi nama Jalur Bulian Barat karena melewati sisi barat jalan aspal. Sedangkan Jalur Bulian Tengah dan Bulian Timur melewati singletrack di sisi timur jalan aspal. Sayangnya, Jalur Bulian Timur tidak sempat kucoba karena hari makin gelap.

Setiap turunan hanya berjarak sekitar 5KM. Rugi jika hanya mencoba 1 jalur dalam sekali kunjungan. Minimal harus mencoba ketiganya. Setelah loop ke-4 baru bisa diputuskan mau coba lagi jalur yang mana. Tentu harus pakai kendaraan loading kalau ingin mencoba seluruh jalur turunan di Desa Bulian.
Pengguna eMTB dari luar Buleleng kalau ingin mencoba jalur ini bisa dengan parkir kendaraan di wilayah Pura Maduwe Karang (Kubutambahan) dan kemudian nanjak aspal sekitar 5KM. Tidak banyak kendaraan bermotor karena merupakan penghubung antar desa (bukan antar kabupaten). Dengan elevation gain sekitar 200M mungkin hanya butuh 30 menit sekali nanjak.
Saya ingin mencobanya lain waktu, mungkin saat pagi hari. Nanjak aspal, turunnya lewat singletrack. Ada yang mau menemani? Yuk gowes bareng di Desa Bulian (Buleleng).
Masih penasaran dengan jalur Bulian? Silakan buka beberapa video-nya lewat postingan facebook saya https://www.facebook.com/share/p/1CpWoC1yw6/
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam gowes dan sukses untuk kita semua..

Menyukai bersepeda dan jalan-jalan sambil motret. Kalau ingin dipandu berwisata, bersepeda, atau difotoin di sekitar Bromo dan Malang, kontak via WA aja ke +62852-8877-6565





Leave a Reply