Sunrise Bromo Terbaik Ada Disini

Pemandangan Lautan Pasir dari Seruni Bromo
Pemandangan Lautan Pasir dari Seruni Bromo
Pemandangan Lautan Pasir dari Seruni Bromo

Melihat sunrise / matahari terbit adalah kegiatan utama yang harus dilakukan saat berkunjung ke Bromo. Saking kuatnya daya tarik melihat sunrise, hampir semua paket wisata Bromo menawarkannya. Jika belum pernah berkunjung, jangan sampai salah memilih tempat untuk melihat sunrise di Bromo. Berikut adalah spot sunrise di Bromo yang dapat dikunjungi oleh wisatawan.

  1. Pananjakan
    Pananjakan adalah spot sunrise yang paling populer di Bromo. Tidak jarang kondisi Pananjakan penuh sesak dengan pengunjung. Agar tidak menemui banyak halangan mencapai Pananjakan, pastikan paling lambat jam 4 pagi sudah tiba disana. Memotret pemandangan dari Pananjakan tentu akan banyak ‘bocor’. Kalau tidak ingin banyak ‘bocor’, pilihlah spot di barisan paling depan. Terkadang jalan untuk menuju barisan paling depan saja sudah susah apalagi menunggu giliran untuk memotret. Jika ingin mendapat kemudahan, datanglah paling lambat jam 3.30 WIB dan letakkan tripod di pagar agar spot tidak diambil orang lain. Jika barisan paling depan susah didapat, ada alternatif spot di bawah Pananjakan. Belum banyak yang berkunjung ke spot ini sebelum pukul 5 pagi. Jika ingin berkunjung kesana, bawalah senter karena jalannya gelap dan cukup curam.
  2. Bukit Kingkong
    Bukit Kingkong adalah spot sunrise alternatif 1 jika pengunjung di Pananjakan membludak. Meski alternatif, tidak sedikit pengunjung yang lebih menyukai Bukit Kingkong dibanding Pananjakan. Hal ini membuat Bukit Kingkong menjadi semakin ramai. Pastikan tiba sebelum jam 04.15 WIB agar tidak menemui banyak halangan saat menuju Bukit Kingkong. Jika ingin memotret pemandangan tanpa terhalang pagar, ikuti jalan paving hingga ke bawah. Lewati pagar beton dengan merangkak / melompatinya. Hati-hati saat memotret dari luar pagar karena tebingnya curam.
  3. Seruni
    Seruni merupakan spot foto sunrise yang letaknya di bawah Bukit Kingkong. Untuk mencapainya lebih baik lewat Cemoro Lawang. Tidak diperlukan jeep untuk mencapai Seruni karena kendaraan pribadi (motor & mobil) bisa masuk hingga ke kantong parkir. Setelah itu, pengunjung diwajibkan jalan kaki / naik kuda selama 30 menit.
    Tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke Seruni dibanding Pananjakan dan Bukit Kingkong. Bangunan baru bergaya jaman kerajaan menjadi daya tarik untuk berkunjung ke Seruni karena inilah keunikannya dibanding semua spot sunrise di Bromo. Agar bisa memotret bangunan harus naik bukit di utara bangunan tersebut. Banyak pengunjung yang salah memilih jalur curam dan terjal untuk mencapai puncak bukit. Hindari memilih jalur yang curam karena terbukti pernah membuat seorang WNA terluka parah pada awal 2020. Ada jalur lain yang lebih aman dan nyaman. Jalanlah ke toilet di sebelah timur bangunan Seruni dan tanya ke penjaganya tentang jalur menuju bukit. Karena jalurnya gelap dan terkadang licin, pastikan membawa senter dan selalu berhati-hati.
  4. Cokroniti
    Cokroniti adalah nama yang diberikan para pesepeda untuk bukit yang bernama asli Argowulan. Cokroniti merupakan spot foto sunrise di Bromo yang masih tersembunyi. Lokasinya berada di dekat Pananjakan dengan ketinggian yang hampir sama. Perlu usaha ekstra untuk mencapainya karena dari jalan utama menuju Pananjakan berjarak sekitar 2km. Jalurnya masih berupa tanah dan hanya cukup untuk 1 motor / sepeda. Hanya motor bebek dan ‘motor lakik’ yang bisa kesana. Motor matic jangan sekali-sekali mencoba mencapainya. Tidak ada penerangan dan bisa menyesatkan jika tidak hafal jalur. Jika tidak biasa naik motor di jalur setapak, lebih baik serahkan kepada ahlinya. Terkadang ojek Pananjakan menawarkan spot ini kepada pengunjung dengan biaya minimal Rp 100.000 PP.
  5. Bukit Perahu
    Masih sedikit wisatawan yang berkunjung ke Bukit Perahu di Bromo karena aksesnya belum dibangun secara permanen. Suasana alam di Bukit Perahu masih kental terasa karena belum ada bangunan permanen di sekitarnya. Ada pohon meliuk yang dapat digunakan dalam komposisi framing. Belakangan spot ini menjadi favorit fotografer landscape karena masih belum terlalu mainstream dan juga aksesnya lebih mudah dibanding Cokroniti. Saya yakin nantinya spot ini akan menjadi alternatif Pananjakan dan bersaing dengan Bukit Kingkong.
  6. Jemplang
    Jemplang berbeda dengan beberapa spot yang telah disebutkan di atas karena tidak ada unsur Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru masuk ke dalam frame. Kebanyakan POI-nya adalah padang rumput (sabana) atau bukit dengan pohon. Jika diabadikan saat musim kemarau dengan langit cerah, sabana akan terlihat berwarna keemasan. Saat kabut muncul, suasana semakin dramatis karena sabana seakan hilang dimakan kabut dan pepohonan muncul tanpa terlihat bagian bawahnya. Lensa tele mutlak diperlukan untuk mengabadikan momen seperti itu.

Dari beberapa spot yang saya sebutkan tadi, bingung memilih harus kemana kan? Dengan waktu yang sempit pasti ingin memaksimalkan kunjungan agar bisa memotret ke hampir semua spot. Jangan khawatir karena saya sudah bolak balik ke Bromo sejak 2012 untuk memotret dan bersepeda. Jika ingin dibantu dalam perencanaan dan dipandu memotret, silakan hubungi saya lewat kontak di bawah.

Oh iya, pastikan juga membawa perlengkapan yang sesuai ketika berkunjung ke Bromo. Perlengkapan yang direkomendasikan untuk dibawa ke Bromo bisa dilihat di tulisan ini. Semoga kunjungan Anda ke Bromo menjadi berkesan positif setelah membaca tulisan ini..

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam motret dan sukses untuk kita semua

Tentang Penulis

Anom Harya

Hobi bersepeda, jalan-jalan, dan memotret. Suka menulis tentang sepeda, traveling, dan fotografi di anomharya.com. Bekerja penuh waktu di OTTO tour yang bergerak di bidang pariwisata. Jika ingin dipandu bersepeda atau memotret di Bromo / Malang, chat aja via WA ke +6285288776565 atau kirim email lewat link ini

Leave a Reply