Hunting Foto Sunset di Bromo

Menikmati sunrise (matahari terbit) di Bromo mungkin sudah terlalu mainstream. Sejak beberapa tahun lalu muncul pikiran untuk mencoba pengalaman baru dengan menikmati matahari terbenam (sunset) di Bromo. Akhirnya rencana untuk menikmati sunset di Bromo baru terlaksana pada Oktober 2020.

Menikmati sunset di Bromo butuh keberuntungan tingkat tinggi. Disebut beruntung jika dapat bertemu dengan langit senja yang cerah tanpa kabut dan awan tebal menutupi. Seringkali terjadi langit tertutup awan tebal sehingga tidak ada cahaya jingga khas warna matahari terbenam. Lebih ‘apes’ lagi saat kabut menutup seluruh lereng sehingga hanya menyisakan ‘layar’ berwarna putih.

Dimulai dengan kedatangan saya dan 2 orang kawan sekitar pukul 2 siang, keberuntungan kami perlahan datang. Kabut sempat beberapa saat menutupi lereng di depan kami. Namun begitu tertiup angin, menyisakan kabut tipis yang ‘beradu tampil’ dengan pepohonan cemara di atas bukit. Semakin jauh semakin tebal kabut yang menutupi bukit sehingga membentuk komposisi layer / lapisan. Momen seperti ini sangat wajib untuk diabadikan dengan lensa zoom menengah – jauh (tele). Karena membawa lensa 24-105mm, saya bisa mengabadikannya.

Komposisi Layer di Bromo

Komposisi Layer di Bromo

Bukit Prau adalah lokasi yang kami pilih untuk menghabiskan waktu 2 hari 1 malam di Bromo. Lokasi yang kami kunjungi saat itu relatif masih merupakan tempat baru di pariwisata Gunung Bromo. Karena masih baru, mungkin tidak banyak yang datang ke Bukit Prau sehingga kami dapat leluasa mendirikan tenda dan bermalam. Selain karena spot baru, Bukit Prau juga memiliki ciri khas dengan pepohonan yang memiliki batang meliuk-liuk. Ada beberapa pohon yang dapat digunakan untuk memotret Bromo dengan komposisi framing. Salah satunya gambar ini.

Komposisi Framing di Bromo

Komposisi Framing di Bromo

Selama 4 jam berada di Bukit Prau kami disuguhkan pemandangan trio gunung Bromo – Batok – Semeru dengan langit berawan tipis. Pemandangan ini cukup langka karena gunung Semeru adalah yang ‘paling mahal tarifnya’. Saya katakan demikian karena seringkali hanya gunung Bromo dan Batok yang menampakkan diri. Gunung Semeru yang berada jauh di belakang gunung Bromo dan Batok lebih sering tertutup awan terutama saat menjelang malam hari di musim penghujan.

Mendekati menit terbenamnya matahari, kami dihibur oleh semburat jingga dari langit barat. Warna hangat ini membuat kami lupa sejenak dengan semakin turunnya suhu di Bukit Prau menjelang gelap. Awan tebal yang menutup langit barat dapat ditembus oleh cahaya matahari yang masih berada di atasnya.

Warna jingga bertahan sekitar 5 menit dan kami yang sejak jam 2 siang tidak berhenti memotret seolah-olah sedang menyaksikan pertunjukan drama mulai tahap perkenalan hingga konflik. Berawal dari kabut yang membuka tirai dan menampakkan trio gunung, langit yang berawan tipis pada pukul 4 sore, hingga semburat jingga yang membuat kami semua panik untuk mengabadikannya dari banyak spot. Oh indahnya senja saat itu di Bukit Prau.

Sunset di Bromo

Sunset di Bromo

Konon Kota Malang sedang dilanda hujan pada saat kami sedang menikmati langit jingga di Bromo. Kami beruntung karena tidak setitikpun air jatuh dari langit di atas kami. Namun sepertinya keberuntungan kami berbalik saat hari mulai gelap. Angin kencang mulai bertiup bersama kabut. Rasa dingin semakin menusuk. Setelah makan malam bersama, kami putuskan untuk istirahat di tenda masing-masing. Dan malam pun berlalu tanpa berhasil kami abadikan karena kabut tebal dan jarak pandang hanya maksimal 3 meter.

Tenda 3 untuk 3 orang

Tenda 3 untuk 3 orang

Keesokan harinya

Meski telah lebih dari 12 jam berada di Bukit Prau tidak membuat saya bosan memotret. Selalu ada saja ide memotret baik dalam kondisi langit cerah maupun berkabut. Ide untuk memotret kabut mengalir karena banyak pepohonan eksotis yang tumbuh dengan formasi cukup berdekatan. Tenda yang saya dirikan diantara pepohonan membuat kekosongan dalam frame terisi. Jika tidak ada tenda dalam foto ini, mungkin mata yang melihatnya akan menuju ke bukit yang berada di belakang tenda. Tidak rugi saya mendirikan tenda di posisi tersebut karena momen yang sering hanya berlalu beberapa detik bisa saya abadikan.

Tenda dan Pepohonan Meliuk

Tenda dan Pepohonan Meliuk

Ternyata tak selamanya kabut membuat kita tidak bisa memotret pemandangan terutama di Bromo. Pepohonan eksotis yang tumbuh subur di Bukit Prau seakan seperti model kelas atas yang sedang memanggil saya untuk memotret. Cahaya hangat matahari pagi yang datang dari belakang saya dan kabut yang bertahan di belakang pohon meliuk membuat objek utama terekspos baik sedangkan latar belakangnya disamarkan. Tanpa lensa bukaan lebar pun saya tetap bisa memfokuskan pandangan menuju objek utama. Terima kasih kabut!

 

Sungguh luar biasa pengalaman kami selama 2 hari 1 malam di Bukit Prau. Dari tujuan awal yang hanya mengabadikan nightscape dan sunrise, bisa mendapat bonus juga untuk memotret daylight dan sunset. Sampai ada teman yang berkata bahwa stok fotonya melimpah dan tidak perlu hunting untuk beberapa saat. Hehehe.

Tertarik untuk berkunjung atau punya pertanyaan soal memotret di Bromo? Tulis aja komen di bawah jes!

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam njepret dan sukses untuk kita semua.

← Previous Post

Next Post →

6 Comments

  1. Yuddi Wijaya

    Thanks sudah menjadi partner motret di Bromo, sukses bro

    • anomharya

      Wooooow Pak Yuddi mampir kesini. Terima kasih sudah menjadi partner camping & motret yang asyik, Pak Yuddi

  2. Waah keren bangeet ka..

  3. Di bromo lebih cenderung berkabut saat kapan ya mas, sunrise, siang ato saat sunset?

    • Pengalaman saya selama belasan tahun bolak-balik ke Bromo, kabut di Bromo lebih dominan muncul setelah jam 12 siang sampai malam. Biasanya antara wilayah lembah dan puncak berbeda kondisi. Inilah yang menyebabkan Lautan Pasir Bromo tampak seperti lautan awan pada saat sunrise. Aapa penjelasan saya bisa dipahami?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *