Getaran Pagi di Ranu Kumbolo

Mystical Ranu Kumbolo

Berkat pengaruh film layar lebar yang tayang sekitar tahun 2013, kini Gunung Semeru (umumnya) dan Ranu Kumbolo (khususnya) menjadi destinasi wisata yang populer. Saya pernah berkunjung ke Ranu Kumbolo pada 2009, beberapa tahun sebelum film tersebut tayang. Sudah 9 tahun berlalu, rindu rasanya untuk berkunjung kembali ke Ranu Kumbolo.

Pada tahun 2009 sepanjang jalur pendakian menuju Ranu Kumbolo terbilang cukup tenang. Tidak banyak pendaki yang saling berpapasan di jalur setapak dan suasana tenang masih dapat dirasakan di tepian Danau Ranu Kumbolo. Kini bahkan ada warung yang menjual minuman hangat, buah semangka, dan gorengan di setiap pos pendakian. Bahkan di Ranu Kumbolo pun ada warung non permanen yang menjual sabun cuci piring. Sungguh pemandangan yang unik mengingat desa terdekat (Ranu Pane) dengan Ranu Kumbolo berjarak sekitar 9,5km.

Ada hal yang tidak pernah berubah dari Ranu Kumbolo. Rasa lelah yang muncul setelah berjalan kaki selama 4 jam terbayar lunas dengan pemandangan indah. Danau yang berada di ketinggian 2400 MDPL menjadi lebih mistis berkat kabut pagi hari. Jangan heran jika ada beberapa bagian danau yang airnya membeku pada musim kemarau. Suhunya pada dini hari bisa mencapai nol dan bahkan di bawah nol. Sebuah pengalaman yang tidak berubah meski sudah 9 tahun saya berpaling darinya.

Foggy Lake Ranu Kumbolo

Pagi itu saya bangun terlambat karena terlalu dingin untuk memulai kegiatan pada dini hari. Pada pukul 6 pagi saja tangan saya masih bergetar padahal semua bagian tubuh sudah ditutup pakaian hangat. Tangan yang memegang kamera bergetar kuat secara tidak disadari. Reaksi tubuh saya menyesuaikan dengan suhu sekitar yang berkisar 5 – 10 derajat celcius.

Beberapa vegetasi berjenis semak menarik perhatian saya sebab hampir semuanya berwarna putih mengkilap. Setelah didekati ternyata warna putih itu adalah bunga es yang muncul sebab rendahnya suhu dalam semalam. Tidak heran jika ada bunga es yang menutup vegetasi karena kopi semalam yang tidak sempat saya minum menjadi es batu pada pagi hari. Pagi itu sungguh dingin dan seluruh tubuh saya bergetar.

Bunga Es di Semak-semak

Om Kabul & om Kico yang menjadi tandem saya berkunjung ke Ranu Kumbolo mengisi dinginnya pagi dengan memasak air panas untuk menyeduh kopi. Sekitar 5 menit dalam genggaman, kopi yang baru saja diseduh sudah menjadi hangat-hangat kuku. Jangan berharap bisa menghangatkan diri dengan membakar sesuatu karena itu adalah hal yang dilarang oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jika tidak tahan dingin, Ranu Kumbolo bukanlah destinasi yang tepat untuk tubuh Anda.

Hangatnya sinar mentari mulai menyentuh puncak bukit dan bergerak turun perlahan hingga tenda kami juga mulai terasa hangat. Sekitar pukul 08.30 WIB tenda kami baru mendapat kehangatan yang dinanti. Kehangatan mentari terlambat datang karena ada beberapa bukit setinggi 50 meter yang menghalanginya.  Di sisi lain tepatnya di lokasi camping ‘mainstream‘, kehangatan sudah dapat dirasakan mulai pukul 6 pagi.

Camp in Ranu Kumbolo

Kehangatan dan ketenangan merupakan poin yang berbanding terbalik di Ranu Kumbolo. Saya merasakan ketenangan karena di lokasi kami hanya terlihat tidak lebih dari 10 tenda yang berdiri. Berbeda dengan sisi lain yang mungkin berdiri sekitar 70 tenda. Belum lagi kondisi tanahnya yang berdebu sedangkan di tempat kami masih memiliki banyak rumput. Meski hanya terpisah sekitar 200 meter, perbedaan kondisi alam sangat terasa akibat banyaknya pendaki yang mendirikan perkemahan. Jika Anda mencari ketenangan, pilihlah lokasi dimana saya mendirikan tenda – tepatnya di lahan datar setelah turunan dari Pos 4.

Om Kico (kiri) dan Om Kabul (kanan)

Tidak lengkap rasanya jika saya tidak memberi info soal bagaimana kondisi perkemahan kami. Dengan perlengkapan sederhana dan tekad yang bulat, suhu minus 0 derajat pun kami lalui dengan selamat. Oh iya, jika berkunjung ke Ranu Kumbolo tidak perlu membawa banyak air mineral. Cukup sediakan saja air minum saat berjalan menuju ke Ranu Kumbolo. Saat masak dan saat berjalan pulang kita bisa meminum air Ranu Kumbolo meski tanpa dimasak. Hingga 2 hari kembali dari Ranu Kumbolo tidak ada masalah pencernaan yang saya rasakan. Anda harus mencobanya sendiri.

Punya pengalaman mengunjungi Ranu Kumbolo? Atau penasaran ingin berkunjung ke Ranu Kumbolo? Sampaikan saja pada form komentar di bawah..

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya,
Salam jalan-jalan dan sukses untuk kita semua.



You may also like

Leave a Reply